Di dunia yang semakin kompetitif ini, mahasiswa tidak hanya memerlukan pengetahuan dan teman baru. Mereka juga membutuh keterampilan yang dapat menarik perhatian para pemberi kerja.

Sebagai ilmu murni, sosiologi sebenarnya punya beberapa keterampilan yang bisa sangat berguna bagi lulusannya yang sedang mengejar karir. Sayangnya, tidak banyak yang menyadari itu.

Dalam tulisan ini Sosial Logi rangkum empat keterampilan yang perlu dipelajari oleh mahasiswa sosiologi agar bisa melesat dalam berkarir setelah menyelesaikan perkuliahannya.

1. Kemampuan menggunakan sejumlah metode

campaign creators pypeCEaJeZY unsplash

Tidak hanya observasi kualitatif, lulusan sosiologi juga dilatih untuk membaca dan menggunakan statistik

Kemampuan untuk melakukan wawancara, observasi, koding, dan metode lainnya bisa membantu pengerjaan proyek riset. Kamu jadi lebih utuh dalam memahami dan menjelaskan fenomena sosial yang ada di sekitarmu.

Dengan menguasai berbagai teknik dalam penelitian sosial, kamu bisa bekerja sebagai dosen, analis kebijakan, analis pasar dan peneliti pasar. 

Profesi-profesi itu sangat mengandalkan akurasi, dan skill multi-metode dapat mempertajam hasil risetmu. Riset yang menggunakan lebih dari satu metode akan lebih mampu meyakinkan stakeholder atau klien kamu.

Christopher Winship, seorang profesor sosiologi dari Universitas Harvard, pun mengajarkan mahasiswanya agar bisa menggunakan berbagai metode penelitian. Mario L. Small, salah satu mahasiswanya yang telah lulus, kini menjadi salah satu sosiolog ternama dan menerima berbagai penghargaan riset.

2. Kemampuan menghubungkan berbagai jenis metodologi

kaleidico 3V8xo5Gbusk unsplash

Metodologi yang berbeda akan saling melengkapi sehingga temuan risetmu lebih kaya

Dalam ekonomi, umumnya peneliti memandang agen sosial dan keputusan mereka sebagai penyusun masyarakat. Berbeda dari ekonomi, peneliti sosiologi umumnya berpegangan pada beberapa metodologi.

Keragaman metodologi membantu kamu menjawab pertanyaan-pertanyaan ilmu sosial murni secara lebih baik. Menurut James A. Evans, keterampilan ini memungkinkan dirimu mempelajari apapun yang ada di masyarakat dari berbagai dimensinya. 

Misalnya, kamu mengombinasikan riset survey dan netnografi untuk mengetahui branding di dunia digital. Survey mengungkapkan keumumannya, sedangkan netnografi menggambarkan prosesnya.

Keterampilan ini sangat cocok didalami apabila kamu hendak menjadi akademisi kampus, peneliti independen, dan intelektual publik.

3. Berpikir inovatif, menghasilkan ide baru

kvalifik 5Q07sS54D0Q unsplash 1

Dengan berpikir inovatif, banyak ide baru yang bermunculan dan siap untuk dipraktikkan

Berpikir inovatif penting bagi mahasiswa sosiologi agar bisa menghasilkan pertanyaan “baru” melalui risetnya. 

Inovasi dapat muncul dari ketertarikan dan minat personal. Mario Small, sosiolog ternama sekaligus editor jurnal Sociological Science, menuliskan risetnya berdasarkan kepada minatnya sendiri. 

Dalam bukunya, Someone to Talk To, Small mempelajari orang-orang curhat: bagaimana cara mereka menentukan orang-orang yang bisa diajak bicara. Unik, bukan? Studi unik dan berwawasan semacam inilah yang, diakui Small, menarik perhatian donor penelitian. Jadi, keterampilan ini bisa membantu karirmu sebagai intelektual.

Di luar dunia akademik, berpikir inovatif ala sosiologi juga bisa bermanfaat untuk karir. Misalnya, sebagai konsultan, multi-perspektif yang diajarkan di sosiologi bisa digunakan agar analisismu lebih menyeluruh.

4. Berpikir out of the box, melihat dari angle yang berbeda

philipp mandler CiNHG2xuVlQ unsplash

Observasi yang hati-hati dan mendalam dapat membantu pikiran kita untuk out of the box

Sosiologi membiasakan mahasiswanya untuk berpikir beda. Tidak mudah bagi seseorang untuk menyadari pengaruh lingkungan sosial pada pola pikir tentang gender. Tidak pula mudah memahami bagaimana pikiran manusia dikonstruksikan sepanjang waktu.

Jadi, berpikir out of the box adalah skill yang diasah secara otomatis di sosiologi. 

Mahasiswa sosiologi dibiasakan untuk berpikir independen, lepas dari asumsi dan bacaannya kemarin sore. 

Seperti kata Jeffrey C. Alexander, membaca ide tua dan klasik itu boleh saja tetapi jangan sampai tenggelam; akademisi harus independen.

Kemampuan berpikir out of the box bisa sangat berguna untuk kamu yang hendak menjadi sosiolog publik dan penulis. Kamu bisa menuliskan wawasan dan sudut pandang baru atas bagaimana masyarakat bekerja. 

Kamu juga bisa menjadi kritikus sosial yang hebat, menulis di berbagai media massa, memengaruhi publik dan pembuat kebijakan.

Jangan ada yang tertinggal

Keempat keterampilan ini sama pentingnya. Malahan, keempat kemampuan itulah yang mendefinisikan dirimu sebagai lulusan sosiologi.

Jadi, mempelajari semuanya saat masih duduk di bangku kuliah adalah langkah yang bagus untuk meniti karir.

Penulis: Moh Alfarizqy

Tentang Penulis

Website | + postingan

Berdiri sejak tahun 2020, Sosial Logi adalah media populer yang membumikan ilmu sosial di Indonesia.

Leave a Reply