Pemanasan global atau global warming sudah menjadi hal yang akrab di telinga masyarakat (Anggraeni, 2015: 188). Pemanasan global diartikan sebagai fenomena meningkatnya temperatur global dari tahun ke tahun karena efek rumah kaca atau greenhouse effect yang dipicu oleh meningkatnya emisi gas rumah kaca (GRK) (Riebeek dalam Anggraeni, 2015: 189).

Pemanasan global akan berdampak pada perubahan iklim atau climate change yang menyebabkan kekeringan, sektor pertanian mengalami gagal panen, kelaparan, bencana alam, hingga kesehatan (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, t.t).  Dengan kata lain, perubahan iklim akan berdampak pada seluruh makhluk hidup yang ada di bumi. Jadi, apakah memerangi perubahan iklim menjadi tanggung jawab kita semua? Perjanjian Paris atau Paris Agreement pada tahun 2015, menjadi momentum pemimpin negara-negara di dunia menyepakati untuk menanggulangi perubahan iklim (Walhi, 2018). 

Perjanjian tersebut menetapkan dua hal, yaitu, membatasi suhu rata-rata dunia di bawah 2 C dan membatasi kenaikan suhu rata-rata 1,5 C (Walhi, 2018). Laporan dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) (2018), mencatat pemanasan global hingga 1,5 C diprediksi akan terjadi pada tahun 2030 hingga 2052 (Rahardyan, 2018).

Kenaikan suhu 1,5 C akan sangat berdampak pada negara-negara miskin dan kepulauan serta diperkirakan dengan meningkatnya suhu bumi 1,5 C, 99% dari terumbu karang akan punah dan mengakibatkan lebih dari 10 juta orang di dunia kehilangan tempat tinggal dan kelaparan (Carnelian, 2020). Saat ini, pemanasan global sudah terjadi hingga 1,3 C sejak era pra-industri. Jika mencapai 1,5 C, dunia akan mengalami kiamat perubahan iklim (Carnelian, 2020). Generasi muda saat ini menjadi subjek yang paling terdampak dari perubahan iklim. Lantas, bagaimana menangani perubahan iklim tersebut?

Strategi Berkelanjutan dan Dampaknya terhadap SDGs

Climate Accountability Institute mencatat terdapat 20 perusahaan energi yang harus bertanggung jawab terhadap emisi global dalam periode penghitungan 1965-2017 (Pusparisa, 2019). 

Data 20 perusahaan yang dapat menghalangi gerakan Net-Zero Emissions

Sumber: Dikutip dari KataDara.co.id (2019)

Dari data di atas, dapat dilihat Saudi Aramco sebagai perusahaan yang paling besar menyumbang emisi dengan 59.262 MtCO2e atau setara dengan 4,38% emisi dunia (Pusparisa, 2019). Diikuti dengan Chevron dengan 43.345 MtCO2e dan Gazprom dengan 43.234 MtCO2e, masing-masing perusahaan tersebut menyumbang 3,20% dan 3,19% emisi dunia (Pusparisa, 2019). Total 20 perusahaan tersebut menyumbang 480.168 MtCO2e atau 35,45% dari total emisi dunia (Pusparisa, 2019). Data ini menunjukan betapa signifikannya perusahaan dalam menyumbang emisi global yang mendorong terjadinya perubahan iklim. 35,45% hanya total emisi yang disumbangkan oleh 20 perusahaan. Tentu, angka ini akan meningkat apabila mengukur sumbangan emisi dari seluruh perusahaan di dunia.

Net-Zero Emissions menjadi salah satu kunci untuk memerangi perubahan iklim. Istilah ini semakin terkenal melalui perjanjian paris pada 2015 yang mewajibkan negara industri dan maju mencapai net-zero emissions pada tahun 2050 (Forestdigest, 2021). Net-zero emissions memiliki arti emisi yang dihasilkan oleh manusia dapat diserap sehingga tidak ada yang menguap ke atmosfer. Secara alamiah, emisi terserap oleh pohon, laut, dan tanah (Forestdigest, 2021).

Hal ini menjadi vital karena penyebab utama dari pemanasan global adalah meningkatnya GRK yang menebal di atmosfer dan mengurangi kemampuan bumi untuk melepas ke luar angkasa, sehingga panas dari matahari dan emisi dalam bumi memantul kembali ke bumi dan meningkatkan suhu secara pelan-pelan karena panas terperangkap di dalamnya (Forestdigest, 2021).

Dengan melakukan net-zero emissions seluruh GRK yang diproduksi manusia dapat diserap hingga tidak ada satu gram pun emisi yang akan naik ke atmosfer dan mencegah peningkatan suhu bumi (Forestdigest, 2021). Tidak hanya itu, net-zero emissions dianggap sebagai salah satu jalan untuk meningkatkan pendapatan per kapita hingga 2,5 kali lipat lebih tinggi dan memberikan PDB per tahun hingga 2% lebih tinggi (Herman, 2021).

Perusahaan sebagai salah satu penghasil emisi yang paling tinggi di dunia harus memikirkan cara yang lebih berkelanjutan dalam melakukan praktik bisnis. Untuk itu, bisnis yang berkelanjutan merupakan kunci dari suksesnya penurunan emisi terhadap perusahaan. Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan berkelanjutan (TPB) dapat menjadi pedoman dalam mengembangkan bisnis yang berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan bersandar pada tiga pilar utama, yaitu, ekonomi, sosial, dan lingkungan yang beriringan harmonis (Suparmoko, 2020: 40).

Di mana pembangunan ekonomi tidak hanya merusak lingkungan, melainkan pembangunan tersebut juga dapat bersinergi dengan pembangunan lingkungan yang menciptakan kesejahteraan, dan ekonomi yang baik untuk memelihara lingkungan untuk mendukung kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya (Pearce dan Warford dalam Suparmoko 2020: 40-41). Jika tidak berjalan beriringan, maka pelaksanaan pembangunan pasti menjadi konvensional, yang pembangunannya hanya menekankan pada pertumbuhan ekonomi dan melupakan aspek sosial dan lingkungan (Salim dalam Aziz, Et. al. Ed, 2010: 24-25). 

Sejalan dengan konsep pembangunan berkelanjutan, terdapat beberapa konsep pembangunan yang turut mempertimbangkan keberlanjutan itu, seperti, green economy, blue economy, bioeconomy, circular economy, dan konsep lainnya. Menurut Kusumaningrum dan Safitra (2019: 16) konsep yang paling cocok diterapkan di Indonesia adalah green economy dan circular economy. Green economy bertujuan untuk mendorong bisnis konvensional yang menggunakan material berpolusi untuk lebih ramah lingkungan (Kaszetelan, 2017 dalam Kusumaningrum dan Safitra, 2019: 12).

Sedangkan, Circular economy merupakan sistem ekonomi yang mengurangi, menggunakan kembali, mendaur ulang, dan memperbaiki alat dan bahan produksi yang sejalan dengan TPB sehingga secara bersamaan menciptakan kesejahteraan lingkungan, ekonomi, dan keadilan sosial bagi generasi sekarang dan yang akan datang (Kusumaningrum dan Safitra, 2019: 14). Konsep ini sejalan dengan tujuan 12 SDGs Produksi dan Konsumsi yang bertanggungjawab dimana bisnis dan konsumen bertanggung jawab dalam proses produksi dan konsumsi. 

Melalui konsep keberlanjutan (green economy dan circular economy) yang sejalan dengan SDGs perusahaan dapat menurunkan emisinya hingga mencapai net-zero emissions. Pembangunan rendah karbon di Indonesia sendiri sudah ditetapkan sebagai agenda prioritas nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.

Konsep green economy dan circular economy juga diadopsi sebagai kebijakan pembangunan rendah karbon oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Medrilzam, 2021). Kebijakan pembangunan rendah karbon meliputi, efisiensi energi, menggunakan energi terbarukan, restorasi hutan, pencegahan deforestasi dan kebakaran lahan gambut, ekonomi circular, dan penurunan produk limbah cair (Medrilzam, 2021). Penulis berpendapat bahwa mengadopsi pembangunan berkelanjutan bukan hanya menyelamatkan dunia dari perubahan iklim, melainkan juga membantu perusahaan untuk tetap relevan dengan pasar.

Tantangan Bisnis Berkelanjutan untuk Mencapai Net-Zero Emissions

Menurut ERM Group, sebuah lembaga think tank yang bergerak pada isu sustainability, terdapat 10 tantangan keberlanjutan yang harus dipertimbangkan oleh perusahaan, yaitu; mitigasi iklim, iklim yang berubah, solusi sirkuler, sampah plastik, konsumsi berkelanjutan, jalur pasok dan distribusi, perlindungan keragaman hayati, teknologi penunjangan SDGs, sumber daya manusia, dan keuangan yang berkelanjutan (Padana, 2020).

Dari 10 tantangan tersebut dapat digambarkan dengan jelas bahwa perubahan iklim dan trend pasar yang bergerak ke arah yang lebih berkelanjutan menjadi isu penting untuk keberlanjutan perusahaan. Perusahaan perlu berupaya lebih bukan lagi secara business as usual untuk bertahan relevan dengan pasar. Tetapi, juga perlu adanya langkah konkrit dari perusahaan untuk mengantisipasi permasalahan iklim yang dapat mengancam bisnis. 

Mengomunikasikan kinerja environmental, social, governance (ESG) perusahaan menyusun dan mempublikasikan secara transparan atas dampak ekonomi, lingkungan, dan sosial baik kontribusi positif maupun negatif terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) dalam laporan keberlanjutan atau lebih dikenal sebagai sustainability report (Islami, 2021).

Di Indonesia sendiri perusahaan telah diwajibkan melaporkan kinerja lingkungan, ekonomi, dan sosialnya dalam laporan berkelanjutan melalui peraturan OJK Nomor 51/POJK.03/2017 tentang Penerapan Keuangan Berkelanjutan bagi Lembaga Jasa Keuangan, Emiten, dan Perusahaan Publik (Amir, 2020). Melalui laporan keberlanjutan dapat membantu organisasi atau perusahaan dalam menetapkan tujuan, mengukur dan mengelola perubahan. Selain itu, laporan ini dapat membantu perusahaan mengembangkan strategi dan kegiatan terkait keberlanjutan atau sustainability (Amir, 2020). 

Selain itu, melalui laporan keberlanjutan, perusahaan dapat mengetahui dan relevan dengan kebutuhan stakeholder, menjembatani kinerja dan perbaikan secara terus menerus. Praktik pengungkapan informasi keberlanjutan menginspirasi akuntabilitas, membantu mengidentifikasi dan mengelola risiko, dan memungkinkan organisasi atau perusahaan untuk memanfaatkan peluang baru.

Pelaporan juga mendukung perusahaan untuk melindungi lingkungan dan meningkatkan tata kelola dan hubungan pemangku kepentingan, meningkatkan reputasi dan membangun kepercayaan (GRI, 2016). Melalui laporan keberlanjutan dapat membantu perusahaan untuk mencapai net-zero emissions. Mencapai net-zero emissions bukan lagi pilihan untuk perusahaan melainkan satu satunya cara perusahaan untuk survive. Telah banyak berbagai metode yang telah dikemukakan oleh ilmuwan dan pakar serta temuan telah banyak menunjukan tren pasar terus bergerak ke arah yang lebih berkelanjutan. Sekarang tinggal keputusan politis dari perusahaan untuk mau bergerak ke arah yang berkelanjutan. 

Penutup

Pemanasan global diakibatkan karena meningkatnya emisi GRK dan memicu perubahan iklim yang menjadi ancaman seluruh makhluk hidup yang ada di dunia. Negara-negara di seluruh dunia melalui paris agreement telah menyetujui untuk menanggulangi perubahan iklim. Perusahaan sebagai salah satu aktor penyumbang emisi GRK terbesar di dunia harus bertanggung jawab dan menerapkan bisnis yang berkelanjutan. Kontribusi dari perusahaan sangat berpengaruh dalam mencapai net-zero emissions sehingga produksi emisi manusia dapat diserap.

Konsep yang dapat diadopsi untuk menanggulangi perubahan iklim dan mencapai net-zero emissions adalah green economy dan circular economy yang sejalan dengan SDGs. Dengan mengadopsi pembangunan berkelanjutan aktivitas bisnis tidak hanya berfokus pada ekonomi namun turut memperhatikan kesejahteraan lingkungan dan sosial serta mewujudkan bisnis yang berkelanjutan. Tidak hanya itu, bisnis yang berkelanjutan juga ditunjang dengan pelaporan keberlanjutan untuk mengkomunikasikan dampak positif maupun negatif dari perusahaan hingga tercipta transparansi dan akuntabilitas dalam menanggulangi perubahan iklim dan mencapai net-zero emissions.

Referensi

  1. Amir, Sya’bani Abdullah. (2020). Kewajiban Penyusunan Laporan Berkelanjutan (Sustainability Report) di Indonesia. Dalam https://sentralsistem.com/news/detail/kewajiban-penyusunan-laporan, diakses 3 Juli 2021.
  2. Anggreani Dian Yuni. 2015. Pengungkapan Emisi Gas Rumah Kaca, Kinerja Lingkungan, dan Nilai Perusahaan (Greenhouse Gas Emission Disclosure, Environmental Performance, and Firm Value). Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Desember 2015, Vol.12 No. 2, hal 188-209.
  3. Aziz Iwan J et.al. 2010. Pembangunan Berkelanjutan Peran dan Kontribusi Emil Salim. (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia).
  4. Carnelian, Chikitta. (2020). 7 Fakta Mengenai peningkatan Suhu Bumi yang Tidak Boleh Lebih dari 1,5 Derajat Celcius. Dalam (https://www.rukita.co/stories/peningkatan-suhu-bumi/ diakses 2 Juli 2021)
  5. Forestdigest. 2021. Apa Itu Net-Zero Emissions atau Nol-Bersih Emisi. Dalam https://www.forestdigest.com/detail/1137/apa-itu-net-zero-emissions diakses 3 juli.
  6. Herman. 2021. Sekanrio Net Zero Emission Hasilkan Pertumbuhan Ekonomi yang Lebih Tinggi https://www.beritasatu.com/nasional/762853/skenario-net-zero-emission-hasilkan-pertumbuhan-ekonomi-yang-lebih-tinggi diakses tanggal 2 juli 2021.
  7. Islami. Dian. (2021). Global Reporting Initiative (GRI) Sebuah Standar untuk Sustainability Report. dalam https://olahkarsa.com/global-reportinginitiative-gri-sebuah-standar-untuk-sustainability-report/, diakses 3 Juli 2021.
  8. Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. t.t. Dampak & Fenomena Perubahan Iklim. Dalam http://ditjenppi.menlhk.go.id/kcpi/index.php/info-iklim/dampak-fenomena-perubahan-iklim diakses tanggal 2 Juli 2021.
  9. Kusumaningrum Aryati Dinta dan Safitra Dhian A. 2020. Era Ekonomi Berkelanjutan: Studi Literatur Tentang Gerakan Bisnis Berkelanjutan. Vol 17, No 1, Maret 2020 pp. 10-17.
  10. Medrilzam. 2021. Pembangunan Rendah Karbon Indonesia & Net-Zero Emission Menuju Ekonomi Hijau. Bahan Tayang Pada Seminar Daring Pertumbuhan Rendah Karbon yang Berkualitas dan Peluang Indonesia untuk Mencapai Netral Karbon Sebeleum 2070.
  11. Padana. 2020. 10 Tantangan Keberlanjutan. Dalam https://padana.id/2020/03/10-tantangan-keberlanjutan/ diakses tanggal 3 Juli 2021.
  12. Pusparisa Yosepha. 2019. Inilah 20 Perusahaan Energi Penyumbang Emisi Terbesar. Dalam https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/12/14/ini-20-perusahaan-energi-penyumbang-emisi-terbesar diakses tanggal 2 Juli 2021.
  13. Rahardyan, Aziz. (2018). Suhu Bumi Naik 1,5 Derajat Celcius pada 2030 sampai 2052. Dalam https://kabar24.bisnis.com/read/20181008/19/847006/suhubumi- naik-15-derajat-celcius-pada-2030-sampai-2052 diakses 2 Juli 2021.
  14. Suparmoko, Muhammad. (2020). Konsep Pembangunan Berkelanjutan dalam Perencanaan pembangunan Nasionala dan Regional. (Jurnal Ekonomika dan Manajemen, Vo. 9, No. 1, April).
  15. Walhi. 2018. Pengurangan Emisi Secara Drastis dan Cepat untuk Menghindari Perubahan Iklim https://www.walhi.or.id/pengurangan-emisi-secara-drastis-dan-cepat-untuk-menghindari-bencana-iklim diakses tanggal 2 Juli 2021.

Tentang Penulis

bb261cdd 532a 49b4 847f 2f36bd9159dd
Andrian Dwi Kurniawan
+ postingan

Andrian Dwi Kurniawan memiliki fokus pada Youth Development, SDGs dan Sustainability. Saat ini ia bekerja sebagai sustainability consultant, co-founder voluntreep dan co coordinator 2030 YouthForce Indonesia.

Leave a Reply