Sebagai pembuka, linimasa Quora Indonesia mulai terisi dengan konten-konten suicidal intention (intensi bunuh diri). Kendati jarang bermain Quora dalam dua hingga empat pekan terakhir, saya masih menyempatkan satu-dua kali waktu melihat perkembangan Quora. Dan, begitulah salah satu perkembangannya; Viralitas konten suicidal note.

Iceberg atau ‘runtuhan puncak gunung es’ yang terjadi sekarang adalah berita meninggalnya salah satu Quorawati Indonesia. Beritanya sudah viral dan saya tidak tega untuk men-tag akun yang bersangkutan. Singkatnya, ada salah seorang pengguna Quora yang meninggal bunuh diri setelah beberapa waktu sebelumnya mencurhatkan tekanan hidupnya di ruang publik berupa timeline Quora Indonesia.

Hal pertama yang muncul dalam benak dan hati saya tentu adalah kedukaan. Bunuh diri beserta pemberitaan ala media massa +62 bagi kedua mata saya merupakan sepasang fenomena menyedihkan. It’s just very sad and hurtful, just to take a peek at those informations.

Hal selanjutnya yang ingin saya angkat adalah keresahan pribadi atas viralitas suicidal note di Quora Indonesia. Objek yang saya tuju hanya satu, yaitu viralitasnya saja. Hal-hal lain seperti duka keluarga pelaku korban, kronologi kejadian, hasil forensik, hingga penegakan keadilan bagi seluruh pihak terkait sudah berada di luar concern saya dalam tulisan ini.

Adakah konsekuensi buruk di masa mendatang, jika viralitas catatan bunuh diri ini terus menerus mendapatkan ruang di ranah publik“, gumam saya.

Bagaimana jika pertanyaan barusan memiliki jawaban logis berupa ‘Ada’?”, gumam lanjutan saya.

Konsekuensi buruk pertama dari hal di atas menurut saya adalah berubahnya/bertambahnya fungsionalitas Quora Indonesia menjadi media penularan penyakit psikis. Konsekuensi tersebut sangatlah memprihatinkan untuk dipikirkan, lebih-lebih dirasakan. Tetapi, mustahil juga rasanya jika manusia hanya hidup untuk meratapi, alih-alih ada opsi berpikir kritis tanpa membuat moral terkikis; Saya tidak bisa mengabaikan kemungkinan bahwa Quora bisa berubah menjadi lapak “menuang cerita sebelum mencabut nyawa“.

Membayangkan Quora dalam dua bulan mendatang dipenuhi oleh curhatan ingin bunuh diri adalah imajinasi yang sangat mengerikan. Sayangnya, yang seperti itu tidak mustahil. Bahkan, mungkin saja benar-benar sudah terjadi. Seperti yang tertulis di atas, belakangan ini saya jarang main Quora.

Kemungkinan buruk di atas bisa dicegah dengan satu upaya sederhana dari kedua belah pihak, yaitu pengguna dan admin. Saya tidak berharap banyak kepada masing-masing dari mereka (terkecuali diri sendiri), karena ratusan upaya sastrawi saya dalam menulis jawaban-jawaban Quora juga minim apresiasi. Harapan saya dalam konteks suicidal di sini dan saat ini hanyalah kesadaran atas pentingnya prevensi bunuh diri.

Berupaya menyelamatkan orang lain sangatlah baik, tapi adakah yang lebih baik dari mendahulukan kesehatan mental kita sendiri?

Upaya yang bisa pengguna Quora Indonesia lakukan untuk menghalau viralitas konten suicidal notes adalah hindari memberi upvotesApapun isi curahan hatinya, upvote hanya akan meningkatkan exposure konten ‘beracun’ tersebut (ya, sangat beracun untuk psikis yang sedang lemah). Apakah kita pernah berpikir, bahwa dari 1.000 upvotes, salah satunya adalah anak muda yang semulai tidak berpikir bunuh diri menjadi terpikir untuk bunuh diri?

Diksi yang saya gunakan pada induk kalimat dalam paragraf sebelumnya adalah ‘hindari’. Saya tidak menggunakan kata ‘jangan’, karena dugaan saya ada <10% konten suicidal notes di Quora Indonesia yang masih ingin move on dan memperjuangkan hidupnya. Ya, kurang dari sepuluh persen. Itu hipotesis saja, sehingga silakan Anda riset lebih mendalam untuk menghasilkan dugaan yang lebih akurat.

Kita masih bisa memberi atensi selain dengan klik upvoteSalah dua yang termudah adalah tekan “Ucapkan Terima Kasih” dan menulis komentar kepedulian sebebas tanggung jawab diri sendiri. Jangan mengekspresikan rasa peduli dengan “Share“. Kembali pada prinsip paragraf sebelumnya, bahwa kita sejatinya kurang antisipatif terhadap kemungkinan membagikan konten suicidal malah bisa menularkan semangat bunuh diri, instead of menyebarkan awareness of mental health.

Direct message bisa menjadi pilihan lanjutan yang lebih intens, tetapi kita juga perlu aware terhadap berbagai kemungkinan yang ada. Quora bukan tempat praktek pengobatan kejiwaan maupun konseling. Kita juga mayoritas bukanlah pakar di bidang psikologis yang demikian. Peduli boleh, bodoh jangan; Secukupnya saja, karena Quora hanyalah dunia maya yang sesempit genggaman gawai kita, at some point kalah luas dengan dunia nyata yang lebih lebar dari handphone bocah pemain Free Fire.

Untuk admin Quora Indonesia, tolong rekayasakan algoritma sehingga konten-konten suicidal notes bisa tenggelam. Saya kurang tahu dengan cara yang harus ditempuh, tapi hal tersebut adalah permintaan terserius saya kepada Anda, Admin Quora Indonesia sekalian. Saya bisa memaklumi kalau Quora Indonesia akan sulit berkembang karena isu BNBR atau yg semacamnya, tetapi saya akan sangat sulit mentoleransi minimnya upaya admin untuk mewujudkan Quora Indonesia sebagai ruang publik yang ramah kejiwaan.

Keresahan yang jujur ini semoga mampu menjawab sebuah permasalahan yang ada di lapangan. Sebuah jawaban bisa menjadi langkah awal atas perubahan berkelanjutan, maupun berakhir sebagai tumpukan tulisan yang terpendam jauh, lapuk oleh konten-konten yang inapropriate. Siapa yang tahu, bahwa mengolah resah menjadi jawaban kelak akan berbuah kebaikan?

Tulisan ini telah diunggah di Quora. Selengkapnya bisa dibaca di sini.

Tentang Penulis

PicsArt 11 02 02.46.28
Muhammad Hafizh Rashin
+ postingan

Pemuda minimalis yang suka menulis sesuatu secara kritis dan puitis. Kendati mengklaim diri sebagai pribadi pragmatis yang kurang teoritis, Hafizh tetap menyukai konsep dramaturgi milik Goffman. Di luar teori sosial, Hafizh tertarik dengan Sun Tzu dan Sherlock Holmes.

Leave a Reply