Di dusun tempat saya tinggal, di era tahun 90-an, ketika ada tetangga yang bekerja sebagai petani membeli sepeda motor baru dengan merek terkenal di saat itu yakni Honda Astrea, menjadi buah bibir di lingkup ketetanggaan.

Buah bibir atau pembicaraan dari lisan ke lisan tersebut tidak melulu terkait dengan hal yang negatif. Selalu ada sisi positif yang dibicarakan seperti motivasi dan semangat kerja keras dari tetangga saya untuk membeli motor merek terbaru.

Bila ditarik ke dalam sistem sosial desa yang lebih luas, respon positif terhadap adanya tetangga khususnya yang bekerja sebagai petani yang membeli motor baru di kala era Orde Baru menandakan apresiasi masyarakat terhadap anggota-anggotanya yang mampu membeli barang material bergerak yang hampir tidak pernah orang petani desa mampu membelinya.

Adanya tetangga petani yang mampu membeli motor baru tidak lantas menjadi patokan umum bahwa kesejahteraan warga petani di desa meningkat atau lebih baik dari waktu-waktu sebelumnya.

Kemiskinan masih membayang-bayangi dan menerpa kehidupan warga petani di desa. Stratifikasi sosial masih terbatas pada ukuran kepemilikan lahan, hewan ternak, dan strata petani apakah petani pemilik lahan ataukah sekedar sebagai petani penggarap.

Semakin luas lahan dan semakin banyak hewan ternak yang dimiliki dan berada pada posisi petani pemilik lahan, dapat dikatakan kondisi kesejahteraan relatif lebih baik dibandingkan petani penggarap yang asetnya sedikit.

Urbanisasi masih menjadi tren yang populer bagi masyarakat agraris di desa untuk mengubah nasib, seakan-akan pindah sementara ke kota adalah kesempatan mutlak untuk menaikkan pendapatan dan status sosial. Namun, bekal yang relatif minim pada masyarakat agraris atau petani desa yang berurbanisasi tidak mampu memberikan banyak perubahan status dan pendapatan secara signifikan. 

Bekal keterampilan yang mumpuni dan relasi sosial yang luas belum mampu dijangkau secara optimal oleh insan-insan agraris dalam menghadapi ketatnya kompetisi sosial dan ekonomi di perkotaan. Dan, ketika kembali ke desa pun, tidak banyak membawa hasil yang sebelum urbanisasi selalu dalam angan-angan selain menceritakan kepada sanak famili dan tetangga tentang pengalaman dan teman baru di kota.

Menipisnya Peluang Urbanisasi

Semakin melajunya pembangunan infrastruktur dan industrialisasi di perkotaan, semakin menipiskan jumlah lahan produktif seperti sawah yang berada di sekitar kawasan kota maupun lahan-lahan yang seharusnya untuk pembentukan kawasan penghijauan di kota. 

Dalih semakin berkembangnya jumlah penduduk dan desakan atau tuntutan dari kebijakan perencanaan, pembangunan, dan pengembangan kawasan kota menjadi dasar legitimasi dalam mengubah lahan produktif menjadi tanah berbeton. Lahan-lahan produktif yang sudah langka dan habis di kawasan perkotaan tidak membuat Rezim Infrastruktur kehilangan akses untuk ekspansi.

Berkurangnya area potensial pembangunan di perkotaan kemudian memberi peluang bagi Rezim Infrastruktur untuk memperluas area pembangunan di kawasan pedesaan yang lebih banyak memiliki lahan produktif atau potensial. 

Pembangunan bandara baru di Kulonprogo Yogyakarta pada periode 2016-2019 merupakan salah satu realitas di mana lahan pertanian milik warga desa diambil alih oleh negara dengan dalih untuk pengembangan daerah agar daerah semakin berkembang dan maju, di samping pula untuk tujuan perluasan daya akomodasi penerbangan komersial.

Warga khususnya petani yang lahannya diambil alih kemudian diberi ganti rugi dan ganti untung sehingga kemudian warga secara massal bisa membeli barang-barang yang tidak lazim dimiliki oleh petani seperti mobil mewah, rumah ala urban, motor baru, benda-benda elektronik dengan harga yang mahal, perhiasan mahal, dan gawai-gawai mahal dengan model terbaru. 

Hal seperti itu yang dapat memperkecil peluang dan keinginan untuk berurbanisasi karena warga lebih disibukkan dengan pengelolaan aset-aset baru baik untuk kebutuhan jangka pendek maupun untuk investasi jangka panjang.

Simulakra dan Gaya Hidup Urban

Realitas lain berkaitan dengan pembangunan di lahan desa dan dana pengganti lahan yang diambil ialah viralnya berita mengenai warga dari tiga desa di Tuban yang beramai-ramai membeli mobil mewah setelah memperoleh dana ganti untung pembebasan lahan untuk proyek pembangunan kilang minyak. 

Warga dari Desa Sumurgeneng, Desa Wadung, dan Desa Kaliuntu mendapatkan ganti untung dari proses perhitungan tanah warga yang dihargai enam ratus ribu hingga delapan ratus ribu rupiah per meternya. 

Kini, tiga desa tersebut dijuluki sebagai Desa Miliarder karena rata-rata setiap kepala keluarga menerima minimal tujuh milyar rupiah sehingga sampai ada yang membeli tiga mobil mewah sekaligus untuk diberikan kepada saudara dan kerabat.

Minat warga untuk beramai-ramai membeli mobil mewah baru bukan tanpa sebab baik struktural maupun kultural. Dalam perkembangan wilayah kota, mobil memiliki potensi risiko kecelakaan yang lebih besar termasuk dampaknya. 

Bayangkan saja, sebuah mobil dengan spesifikasi yang rumit, daya tampung penumpang yang disesuaikan, dan kecepatan yang didesain sedemikian rupa apabila terjadi kecelakaan bisa menimbulkan korban jiwa yang lebih banyak dan lebih beratnya kerusakan fasilitas yang tertabrak oleh mobil. 

Ruang-ruang perkotaan adalah ruang-ruang kecepatan yang berkelindan dengan dinamika ekonomi yang ada, oleh karenanya ruang-ruang perkotaan didesain penataannya agar meminimalisasi tingkat risiko kecelakaan mobil dengan tetap memperhatikan risiko kecelakaan kendaraan lain seperti sepeda motor. 

Hal itu kemudian menimbulkan persepsi bahwa siapa yang mampu mengendalikan mobil di jalan raya, dia telah mengidentifikasi dirinya sebagai masyarakat urban yang tangguh dan keren. 

Itu terjadi ketika ada seseorang yang pulang ke desa dari merantau di kota yang menceritakan kepada anggota keluarga, saudara, dan tetangganya tentang karakteristik masyarakat kota yang penuh dengan kegengsian akan simbol-simbol kemewahan salah satunya adalah mobil.

Implikasi dari faktor ruang kecepatan di perkotaan dan konstruksi identitas masyarakat urban ialah meningkatnya iklan-iklan mobil yang didesain menggunakan beragam simulakra dan hiperrealitas yang mengalahkan simulakra dan hiperrealitas iklan-iklan motor. 

Selain itu, tayangan sinetron dan film yang menunjukkan eksistensi sosial tingkat atas yang ditandai dengan kepemilikan mobil sebagai cara untuk memperoleh pengakuan dan membedakan diri dari kelas sosial lain turut mempengaruhi persepsi masyarakat yang membentuk logika hasrat yang didominasi nilai tanda dan nilai tukar melebihi rasionalitas nilai guna. 

Masyarakat telah terkonstruksi dan disistematisasi oleh struktur tanda yang memperlihatkan berbagai simulasi sosial yang cenderung penuh dengan manipulasi.

Mudahnya masyarakat membeli sepeda motor secara kredit di zaman ini ditengarai menjadi hal yang menyebabkan kepemilikan sepeda motor di desa tidak lagi dinilai sebagai simbol eksklusivitas strata sosial tertentu, tetapi telah bergeser pada kepemilikan mobil berdasarkan dua hal yang telah dijelaskan sebelumnya. 

Semakin menguatnya pengaruh gaya hidup urban kekinian dan tayangan gaya hidup urban di berbagai media turut menjadikan batas-batas sosiokultural desa dan kota menjadi kabur. 

Orang khususnya warga agraris di desa kemudian menjadikan gaya hidup masyarakat urban sebagai standar perbaikan kesejahteraan dan kekayaan dan tentu mereduksi hasrat pindah sementara ke kota, hal itu terwujud apabila memiliki dana yang diperoleh dari perhitungan kerugian dan keuntungan karena adanya proyek pembangunan.

Kerentanan Di Balik Simbol Kemewahan

Kepemilikan mobil beramai-ramai pada warga di tiga desa setelah memperoleh dana ganti untung tentunya menimbulkan kerentanan atau risiko yang lebih besar apabila warga tidak mengimbanginya dengan penguatan 𝘩𝘶𝘮𝘢𝘯 𝘤𝘢𝘱𝘪𝘵𝘢𝘭 dalam hal peningkatan 𝑠𝑘𝑖𝑙𝑙 dan manajemen risiko yang berhubungan dengan kepemilikan benda materi. 

Selain memiliki tingkat risiko kecelakaan yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan kendaraan roda dua seperti motor dan tingginya biaya pemeliharaan, risiko lain juga ada pada kepemilikan mobil seperti: 

  1. Kepemilikan mobil rentan masuk perangkap jaringan bisnis penipuan seperti kerja sama dalam usaha sewa-menyewa yang berisiko pada kasus penggelapan kendaraan; 
  2. Banyaknya mobil-mobil yang dipajang di garasi rumah-rumah di Desa Miliarder berpotensi meningkatkan tindak kriminal seperti perampokan dan pencurian di mana masyarakat harus menjaga ekstra ketat dengan memasang kamera pengintai dan meminta bantuan petugas keamanan; 
  3. Masyarakat yang ekstra ketat dan sibuk dalam menjaga barang-barang mewahnya termasuk mobil rentan lupa dengan kegiatan-kegiatan sosial di pedesaan seperti kerja bakti dan siskamling sehingga dapat meruntuhkan secara perlahan kekuatan solidaritas mekanik yang telah dibentuk dalam waktu yang lama.

Peningkatan 𝑠𝑘𝑖𝑙𝑙 terkait dengan kepemilikan mobil misal mencakup aktualisasi kepentingan bisnis seperti usaha carteran dengan aturan yang legal agar tidak mudah menjadi korban penipuan dan penggelapan kendaraan mewah. 

Selain itu, bisa pula dibisniskan bekerja sama dengan institusi yang resmi seperti Grab dan Gojek sehingga pembagian keuntungan bisa lebih jelas dan akuntabel. Kemudian terkait dengan manajemen risiko dalam mendayagunakan kendaraan pribadi seperti peningkatan pemahaman mengenai cara yang efektif dalam mengamankan mobil dan perawatan mobil dengan biaya yang efisien. 

Ketidakmampuan masyarakat dalam mengoptimalkan 𝑠𝑘𝑖𝑙𝑙 dan manajemen risiko dapat mengakibatkan efek jangka lama seperti tidak produktifnya penggunaan mobil yang mengharuskan mobil untuk dijual demi mengatasi keterhimpitan hidup. Keterhimpitan hidup tersebut yang dapat kembali melahirkan kemiskinan dan persoalan sosial lainnya. 

Untuk mengatasi persoalan tersebut, solidaritas sosial antarwarga desa harus dipertahankan agar terbentuk sistem relasi yang membantu dalam mengoptimalkan dan mengooptasi produktivitas warga setelah memperoleh dana ganti untung dan agar tidak terlalu didominasi oleh sistem tanda konsumsi. 

Solidaritas tersebut juga dapat berfungsi dalam menangkal potensi munculnya konflik dan kecemburuan sosial setelah warga menambah barang-barang glamor.

Tentang Penulis

4e006cc3 fd19 4a4e 91f6 cf1e81ddd30e
Muhammad Makro Maarif Sulaiman
+ postingan

Lahir di Yogyakarta pada tanggal 13 Februari 1990, berdomisili di Bantul Yogyakarta, menyelesaikan studi S1 Sosiologi UGM tahun 2013 dan S2 Sosiologi UGM tahun 2020. Memiliki minat pada kajian pembangunan, ketimpangan sosial, gender, hak-hak minoritas, dan seputar teori sosial.

Leave a Reply