Kamu mungkin sering mendengar kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian saat menangani aksi. Dan bukan hanya saat aksi Pak Polisi bisa berbuat salah… Coba lihat screenshot berita di bawah ini.

Diambil dari Kurio, aplikasi pengumpul berita

Dalam konteks sehari-hari pun Pak dan Bu Polisi bisa mengejutkan banyak orang karena perilakunya yang sangat tidak terpuji dan di luar ekspektasi.

Makanya, ada yang bilang semua polisi sama buruknya (biasanya disebut ACAB, singkatannya All Cops Are Bastards). Tapi ada juga yang bilang kalau itu semua hanyalah ulah oknum tak bertanggung jawab.

Nah, baiknya gimana sih kita memahami perilaku menyimpangnya anggota kepolisian?

Apel busuk dan kepeleset

Ada analogi, bahwa polisi yang menyimpang itu seperti apel yang membusuk. Maksudnya, sebenarnya polisi yang menyimpang itu orangnya baik.

Cara memahami kriminalitas polisi macam ini sangatlah individualistik. Biasanya cara ini digunakan oleh pihak kepolisian sendiri untuk meminimalisir backlash publik ketika ada penangkapan anggota polisi.

Satu perspektif lain untuk memahami penyimpangan Pak dan Bu Polisi adalah dengan menggunakan ide “lereng yang licin”. Maksudnya, kalau seorang polisi sudah melanggar hukum (sekecil apapun itu), maka dia sebenarnya sudah satu langkah menuju pelanggaran hukum yang lebih besar.

Sama dengan rotten apple, perspektif ini sangat individualistik.

Fungsi label “oknum”

Kita (Bangsa Indonesia) punya kebiasaan serupa: menyebutkan anggota polisi dan militer yang bertindak jahat sebagai “oknum”. Kenapa ya kok pakai kata “oknum”?

Secara bahasa, oknum merujuk pada pribadi atau individu. Secara fungsi, mengikuti pikiran Seno Gumira Ajidarma, kata oknum ada untuk memisahkan pelakunya dari lembaga terkait. Alhasil, kejahatan satu orang tidak lantas membuat lembaga kepolisian dan militer dipersepsi dengan buruk juga. Label “oknum” ada untuk menjaga image polisi dan tentara.

Dari sini keliatan: oknum-isasi punya fungsi yang serupa dengan metafora “apel busuk”.

Sangat jarang (bahkan mungkin tidak pernah) ada istilah “oknum artis”, atau “oknum geng motor”. Tapi kalau pelakunya polisi dan tentara, seringkali dilabeli oknum. Seolah, sang pelaku tertangkap berbuat kejahatan karena dirinya sendiri.

Mungkin nggak sih organisasinya yang bermasalah? Berdasarkan studi empirik, sangat mungkin.

Klasifikasi kriminalitas polisi

Menurut studi yang dilakukan oleh Geoff Dean dan Petter Gottschalk, kriminalitas polisi dapat terjadi karena kesalahan individunya, kesalahan sosialisasi di dalam budaya kepolisian, dan kesalahan sistematik pada sistem integritasnya. 

Jadi ada tiga level: individu, kelompok, dan organisasi.

pasted image 0 2

Sebuah kerangka konseptual di studi kepolisian, dikutip dari Geoff Dean dan Petter Gottschalk

Sedangkan penyimpangan polisi bisa dikonseptualisasikan menjadi tiga: miskonduk, korupsi, dan predatori.

Miskonduk

Pak dan Bu Polisi ini melanggar atau tak sesuai prosedur, peraturan dan hukum yang berlaku. Berikut tipe-tipe miskonduk.

Overzealous (individu). Polisi ini anggap sifat polisi itu memang keras, tanpa perasaan, dst. 

Misguided (kelompok). Polisi ini dulunya diajarkan cara yang salah dalam profesi kepolisian, misalnya boleh nunda perintah. 

Unethical (organisasi). Polisi ini merasa aman untuk melakukan tindakan ilegal karena jabatannya di kepolisian.

Korupsi

Polisi yang korup adalah mereka yang menggunakan otoritasnya dengan cara yang salah. Berikut tipe-tipe korupsi polisi.

Opportunism (Individu). Polisi ini pakai statusnya untuk kepuasan diri daripada untuk publik dan dengan profesionalitas.

Condoning (Kelompok). Polisi ini ikut serta atau menutupi opportunism polisi lainnya sehingga si pelaku terjaga kerahasiaannya.

Obstructionism (Organisasi). Polisi ini, tidak hanya condoning, secara aktif menghalangi investigasi dan penangkapan karena “polisi tidak menangkap polisi”.

Predatori

Polisi predatori adalah polisi yang proaktif dalam perilaku predatoris. Misalnya, memeras seseorang atau kriminal untuk perlindungan dari penangkapan. Berikut tipe-tipe polisi predatori.

Greed (Individu). Polisi ini mencari “mangsa” yang bisa diperas secara finansial. Kadang yang diperas bukan finansial. Intinya sih, ada hal yang diambil secara paksa dari “mangsa” si polisi.

Collusion (Kelompok). Polisi ini saling bekerja sama untuk mengeksploitasi dan memanen uang dari orang lain.

Connected (Organisasi). Polisi ini secara aktif bangun jaringan dengan sesama dan luar kepolisian untuk menjangkau kriminal underworld dan memaksimalkan profit yang diperoleh.

Polisi juga bisa salah

Terlepas dari posisi dan pandangan politik kita masing-masing, kejahatan dan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh anggota polisi faktornya bisa berasal dari dirinya sendiri, orang lain, teman-temannya, dan sistem kepolisiannya.

Menggunakan kata “oknum” pada setiap anggota polisi yang menyimpang nampaknya bukanlah tindakan yang bijaksana.

Sebab, penggunaan “oknum” menghalangi kita terbuka pada segala kemungkinan: bisa jadi ada yang salah pada nilai dan norma yang berlaku di kepolisian lokal, bisa jadi ada masalah dalam pendidikan internal mereka, bisa jadi ada masalah dalam integritas mereka sebagai organisasi, dan semacamnya.

Menuduh semua polisi sama buruknya juga kurang bijak. Jika tuduhan keburukan itu hanya berlaku pada waktu tertentu, dan daerah tertentu, itu mungkin saja. Tapi kalau tuduhan itu berlaku umum dan kapanpun, rasanya kurang masuk akal.

Tentang Penulis

67025486 435698950366782 7368492416999707305 n
Moh Alfarizqy
+ postingan

Kuli Instagram di Kampus Se-Indonesia. Sarjana Sosiologi dari FISIP UNAIR yang minat dengan metodologi induktif dan mixed method.

Leave a Reply