Albert Camus, filsuf dan penulis kenamaan Perancis pernah berkata “Dan di akhir hari, tetap bertahan hidup membutuhkan keberanian yang jauh lebih baja, dibandingkan bunuh diri”

Kutipan ini sekonyong-konyongnya menjadi nubuat dan mantra yang menunjukkan keberanian untuk bertahan hidup, jauh lebih perkasa dibandingkan keberanian untuk mengakhiri hidup. Namun, pada kenyataannya apakah sesederhana itu?

Jesse Bering berupaya mengulik teka-teki tentang mengapa kita, sebagai spesies manusia, memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

Evolusi dan kebudayaan

Charles Darwin menjelaskan hasrat inheren dari organisme adalah untuk terus bertahan hidup, dan manusia melalui teori revolusionernya merupakan binatang. Namun apa yang menyebabkan kita berbeda, dan menyalahi “kodrat” dengan melakukan bunuh diri?

Menyangkut bunuh diri, kemampuan otak kita berevolusi ⎼ hasrat emosi, kemampuan sensorik, berpikir kritis, dan kesadaran kita ⎼ menjadi kunci spesies manusia untuk bertahan hidup dan menciptakan peradaban.

Di saat yang sama evolusi otak memudahkan kita memproses emosi kuat dan terlibat dalam aksi bunuh diri; rasa malu yang berlipat-lipat. Manusia adalah spesies dengan kemampuan psikologis natural ⎼ kita dapat berempati/relate dengan orang lain, namun kita juga melihat harga diri kita, dari persepsi orang lain.

Budaya bunuh diri berbasis malu telah dianggap sebagai tradisi di sejumlah masyarakat.  Masyarakat feodal Jepang mengenal budaya seppuku; bunuh diri dengan menyayat perut, dikarenakan rasa malu yang kuat karena telah melanggar nilai busshido. Kasus bunuh diri Jessica Choi pada November 1988 di Hongkong, menggunakan kompor Arang; mati melalui asap karbon monoksida, memicu wabah bunuh diri di Asia.

Buku novel serial 13 reason why yang memicu penelusuran bunuh diri

Serial 13 Reason Why yang memicu tingginya penelusuran bunuh diri di Google didasarkan pada buku novel berjudul sama

Menurut laporan WHO terdapat 700.000 orang meninggal dikarenakan bunuh diri setiap tahunnya. The Atlantic pun telah melaporkan fenomena “pakta bunuh diri” dengan  “orang asing yang intim” melalui Internet di Jepang. Hampir tiga minggu pasca keluarnya serial kontroversial 13 Reason Why; kisah Heroine tragis Hannah Bekker yang mengirimkan 13 rekaman kepada orang yang pernah menyakitinya, pencarian akan tema bunuh diri meningkat pesat sekitar 900.000 – 1.500.000 di Google.

Catatan: muncul serangkaian kasus bunuh diri copycat di kalangan remaja pasca kemunculan serial TV Netflix 13 Reason Why, yang juga menampilkan adegan bunuh diri Hannah Bekker

Apakah kepercayaan terhadap agama dapat mencegah bunuh diri?

Jawabannya, iya; partisipasi religi dan kontak sosial dengan jejaring keagamaan mencegah bunuh diri hingga 4x lipat

Namun, tolong dipahami bahwa apabila kita telah mencapai tahapan di mana toleransi akan rasa sakit yang meningkat, ketakutan akan kematian yang semakin menurun, tidak ada nubuat, mantra, puisi, atau firman agama dengan hukuman terkejam di hari akhir sekalipun yang dapat mencegah manusia untuk mengakhiri penderitaan dengan bunuh diri,

Please be kind 

Bunuh diri dan kesehatan mental merupakan suatu hal yang misterius, penuh teka-teki, dan stigma sosial. Namun, jangan pernah lupakan satu hal inheren bagi kita sebagai spesies; kita adalah makhluk sosial.

Catatan terakhir pasien Dr. Jerome Motto sebelum bunuh diri dengan terjun dari Jembatan Emas San Francisco.

“Aku tak bakal mati dulu, jika berpapasan dengan orang yang tersenyum kepadaku”

Tolong hubungi profesional, atau call center gawat darurat 119 jika keinginan bunuh diri muncul. Komunitas Into The Light Indonesia, dapat menjadi media rujukan/komunitas edukasi mengenai masalah kesehatan mental, dan bunuh diri. Kamu berarti dan dicintai.

Bacaan lebih lanjut:

  • A Very Human Ending: How Suicide Haunt Our Species oleh Jesse Bering
  • Jumpers oleh Tad Friend (New Yorker)
  • Let’s Die Together oleh David Samuels (The Atlantic)

Tentang Penulis

PicsArt 11 02 02.39.37
Septyawan Akbar
+ postingan

Penulis menyukai semua kajian sos-pol tentang budaya, psikologi, sastra, media dan film. Aktif di pers mahasiswa dengan menjadi redaktur, saat ini masih terus mengasah kemampuan menulis untuk menjadi copywriter professional.

Leave a Reply