PJ. Bupati Sidoarjo dalam sebuah kunjungan di sekolah menyampaikan bahwa sekolah dalam jaringan (daring) harus terus dievaluasi. Menurut PJ. Bupati Sidoarjo, efektivitas sekolah daring saat ini hanya sebesar 40%. Berdasarkan pengamatan penulis, tidak efektifnya penyerapan materi oleh siswa melalui sekolah daring disebabkan beberapa hal.

Guru lebih banyak menjelaskan, sedangkan interaksi guru dan murid sebatas tanya jawab di akhir pertemuan. Siswa juga cukup terbebani dengan sistem pemberian sebuah tugas siswa setiap satu mata pelajaran. Para siswa mengaku bahwa materi yang disampaikan oleh guru banyak yang belum mereka pahami, sehingga mereka lebih banyak menyontek atau sekedar meniru jawaban di internet. 

Ki Hajar Dewantara pernah menyampaikan konsepsi pendidikan, yakni, tripusat dan sistem among. Tripusat menjelaskan bahwa siswa menerima pendidikan dari tiga tempat, yaitu, lingkungan keluarga, lingkungan perguruan, dan lingkungan masyarakat. Sebagian besar kegiatan belajar siswa berpusat di sekolah atau lingkungan perguruan.

Namun saat ini, sekolah tatap muka harus ditiadakan untuk sementara waktu. Maka, dua pusat pembelajaran lainnya, yakni, lingkungan keluarga dan masyarakat harus lebih dimaksimalkan. Sedangkan, sistem among merupakan sistem pendidikan yang berdasarkan kekeluargaan dengan asas kodrat alam dan kemerdekaan. Artinya, pendidikan bukan hanya menuntun siswa untuk mengerjakan sesuatu, melainkan juga membuat mereka mandiri, memahami benar dan salah dengan baik dan bijak sebagai manusia. 

Tugas siswa berbentuk irisan materi

Pemberian tugas siswa perlu melibatkan sejumlah mata pelajaran sekaligus partisipasi sejumlah siswa yang proksimitasnya dekat

Guru, siswa, orang tua, dan lingkungan sekitar merupakan sumber belajar yang penting untuk menciptakan pembelajaran yang efektif. Bisa kita mulai dari merubah pandangan bahwa satu mata pelajaran satu tugas.

Guru dapat membuat irisan dari setiap materi yang berkaitan antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya, kemudian, dihimpun dalam satu tugas. Irisan materi yang dijadikan tugas, mempertimbangkan keterkaitan antarmateri. Pemberian tugas ini, bertujuan agar siswa lebih menguasai apa yang ia kerjakan dan tidak terbebani. 

Materi yang penulis jadikan contoh berikut adalah materi pada mata pelajar matematika untuk siswa SMP kelas 1. Pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, terdapat materi “Teks Deskriptif”. Kemudian, pada mata pelajaran IPS terdapat materi “Unsur-Unsur Peta”.

Pada awal materi dimulai, guru membuka dengan pertanyaan, bukan penjelasan. Pertanyaan mengenai sejauh mana siswa memahami dua materi tersebut, dilanjutkan dengan tanya jawab mengenai unsur-unsur peta maupun susunan teks deskriptif. Pertemuan selanjutnya bisa dilanjutkan dengan memulai persiapan untuk pengerjaan tugas.

Di antaranya, menanyakan kesepakatan siswa apakah tugas dapat atau mampu dikerjakan secara mandiri, atau membutuhkan teman untuk bekerjasama? Apabila siswa meminta untuk bekerjasama, maka guru memberikan alternatif bahwa mereka yang rumahnya berdekatan, diharuskan menjadi satu kelompok. Mengingat saat ini kondisi pandemi, maka mobilitas yang terlalu jauh juga kurang tepat. Tugas siswa yang diberikan berupa mengamati peta, dan menjadikannya laporan dengan teknik menulis deskriptif. 

Tujuan pemberian tugas siswa dengan menggabungkan materi dari beberapa mata pelajaran adalah siswa akan lebih mudah menangkap materi tersebut. Sebab, mereka mengobservasi, mengeksplorasi, dan membuat sebuah karya. Sehingga materi tersebut akan lebih mudah diingat. Karena pada dasarnya, bukan jumlah tugas yang banyak yang akan membuat siswa mengingat dan mengerti materi tersebut. Tetapi, tugas yang mereka kerjakan sendiri. Mereka melakukan proses di dalam tugas tersebut, bukan sekedar memberikan pertanyaan, kemudian dijawab oleh siswa.

Kunci keberhasilan dan efektivitas belajar siswa di masa pandemi adalah menemukan metode belajar yang tepat sesuai dengan kondisi siswa dan lingkungannya. Penulis melihat beberapa di antara guru memberikan tugas yang mengharuskan siswa untuk mencetak tugas, padahal sekolah masih berlangsung secara daring. Sehingga, kurang bermanfaat dan akan memberatkan siswa yang tergolong kelas menengah ke bawah.

Pada masa pandemi, aktivitas belajar yang membuat siswa melakukan aktivitas, seperti, menulis, membaca, atau membuat sebuah karya, tidak hanya efektif untuk penyerapan materi belajar. Kegiatan tersebut juga menimbulkan perasaan senang saat melakukan aktivitas belajar. Apalagi jika didukung dengan komunikasi dan perhatian yang cukup dari orang tua dan guru untuk terus menjaga kesehatan mental siswa, kondisi tubuh mereka juga akan terus terjaga dengan baik.

Bacaan lebih lanjut

  1. Kurniasari, Asrilia, Fitroh Setyo Putro Pribowo, and Deni Adi Putra. 2020. “Analisis Efektivitas Pembelajaran dari Rumah (BDR) Selama Pandemi Covid-19.” Jurnal Review Pendidikan Dasar: Jurnal Kajian Pendidikan dan Hasil Penelitian.
  2. Mustakim. 2020. “Efektivitas Pembelajaran Daring Menggunakan Media Online Selama Pandemi Covid-19 pada Mata Pelajaran Matematika.” Al asma: Journal of Islamic Education.

Tentang Penulis

ed1b9e11 e740 484d b21d acce6955d1eb
Lenny Raficha Fatjerin
+ postingan

Penulis yang akrab di sapa Lenny, merupakan alumnus program studi sosiologi Universitas Airlangga. Gemar sekali mempelajari isu-isu mengenai pendidikan dan etnisitas.

Leave a Reply