Sepanjang 2021 Indonesia mengalami aneka persoalan yang cukup serius terutama berkaitan dengan problem lingkungan hidup.

Persoalan ini dapat dilihat dari beberapa contoh kasus yakni sepanjang 2021 telah terjadi kebakaran hutan dan lahan, tercatat hingga Juli 2021 telah mencapai 160.104 Hektar, meski begitu di tahun 2021 berdasarkan data dari KLHK telah terjadi penurunan angka kebakaran hutan dan lahan. 

Selain itu masih berjamurnya izin untuk perkebunan kelapa sawit hingga tambang menyebabkan angka deforestasi di Indonesia semakin meningkat. Dampak dari deforestasi tentu semakin besarnya lepasan gas efek rumah kaca yang mendorong perubahan iklim, serta juga mengundang bencana.

Di sepanjang 2021 bencana hidrometeorologi mendominasi jumlah bencana di Indonesia. Menurut catatan dari BNPB, terdapat 1.205 kejadian bencana yang terjadi sepanjang Januari-April 2021. 

Bencana hidrometeorologi masih dominan, tercatat ada 501 kali kejadian, lalu angin puting beliung sekitar 339 kejadian, dan tanah longsor kurang lebih 233 kejadian. Sepanjang sampai pertengahan tahun terdapat 1 persen peningkatan bencana.

Salah satu yang menjadi catatan adalah adanya banjir bandang di Kalimantan Selatan yang diakibatkan oleh alih fungsi kawasan hutan karena alih fungsi karena peruntukan sawit dan tambang. Lalu banjir juga terjadi di NTT (Nusa Tenggara Timur) sebagai akibat dari perubahan iklim yang menyebabkan tingginya curah hujan, selain juga persoalan daya dukung kawasan yang tidak memadai. 

Tidak cukup di situ sepanjang 2021 ini kita disuguhkan aneka banjir dan longsor. Beberapa waktu lalu secara beruntun terjadi di Kota Batu, Jawa Timur, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan Barat.

Secara sepintas memang kejadian ini tampak biasa saja, seolah-olah siklus alami. Tetapi bencana hidrometeorologi merupakan salah satu bencana yang diakibatkan oleh adanya perubahan iklim. 

Selain itu perubahan iklim sangat dipicu oleh adanya semakin meningkatnya gas efek rumah kaca di atmosfer, penyebabnya tak lain adalah deforestasi, alih fungsi kawasan dan masih eksisnya industri dengan tumpuan energi kotor seperti batubara, bahkan listrik kita masih didominasi Pembangkit Listrik Tenaga Uap yang menggunakan batubara sebagai tumpuan energinya.

Tetapi sekelumit persoalan yang dijabarkan ini hingga kini belum ada semacam upaya serius untuk menanganinya. Kondisi ini jika dibiarkan begitu saja, tentu di masa depan akan mengancam kehidupan generasi yang akan datang. Serta akan semakin memperentan keberadaan komunitas yang harus hidup dalam serba keterbatasan. 

Apalagi dalam laporan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) 2020 lalu telah mengingatkan seluruh komunitas manusia dan negara untuk mengambil langkah serius dalam menyelamatkan lingkungan, khususnya upaya signifikan dalam melawan perubahan iklim salah satunya adalah mengurangi laju deforestasi dan beralih ke energi baru terbarukan.

Tetapi ada yang dapat dilakukan dari persoalan semua ini, yakni dengan melakukan gerakan lingkungan sebagaimana yang sedang meluas di seluruh dunia, khususnya kalangan anak muda, meski di Indonesia masih minim. Gerakan ini nantinya akan mendorong perubahan atas sistem ekonomi dan politik yang masih tidak melihat faktor ekologis.

Gagasan gerakan lingkungan ini sangat terkait dengan sebuah gagasan dalam sosiologi lingkungan yakni reflexive modernization, merujuk pada penjabaran Gabe Mythen dalam artikelnya berjudul Ulrich Beck: E-Special Introduction (2020) merupakan sebuah bentuk dari perubahan sosial yang didorong oleh penilaian dan tindakan yang dianggap ilmiah atau rasional, tetapi dalam praktiknya terdiri dari refleks, sebagai respons atas suatu keadaan masyarakat yang beresiko. Terutama bersandar atas evaluasi terkait persoalan kerentanan komunitas yang diakibatkan oleh sistem ekonomi hingga politik yang tidak berperspektif lingkungan yang akhirnya mendorong perentanan.

Menyambung seperti gagasan yang ditawarkan oleh Ulrich Beck dalam konteks reflexive modernization, ia telah berargumen dari akhir 1980-an terutama dalam buku berjudul The Reinvention of Politics (1997) dan dalam Reflexive Modernization: Politics, Tradition and Aesthetics in the Modern Social Order yang ia tulis bersama Anthony Giddens dan Scott Lash (1994), menandai bahwa masyarakat berisiko berpotensi diubah oleh gerakan sosial lingkungan dunia, lebih khususnya di Indonesia terutama menjadi perubahan struktural tanpa menolak manfaat modernisasi dan industrialisasi.

Hal ini mengarah pada bentuk reflexive modernization dengan upaya dunia, terutama di Indonesia untuk mengurangi risiko dan proses modernisasi yang lebih baik di bidang ekonomi, politik, dan praktik ilmiah, karena pada dasarnya dalam situasi gencarnya pembangunan, mereka dibuat kurang terikat pada siklus perlindungan risiko. 

Dari koreksi atas praktik politik terkini yang telah menciptakan bencana lingkungan, kemudian mengklaim tanggung jawab dalam suatu kecelakaan, namun tidak ada yang tetap diperbaiki karena menantang struktur operasi ekonomi dan dominasi pembangunan swasta.

Ide Beck reflexive modernization adalah tentang melihat ke depan bagaimana krisis ekologis dan sosial kita di akhir abad ke-21 ini mengarah pada transformasi institusi sistem politik dan ekonomi secara keseluruhan, menjadikannya lebih “rasional” dengan mempertimbangkan ekologis. 

Inilah yang penting menjadi dasar bagi gerakan lingkungan di Indonesia, terutama pada anak-anak muda untuk mendorong perubahan sosial dalam hal tata kelola lingkungan yang lebih baik.

Tentang Penulis

WhatsApp Image 2021 12 25 at 10.22.30 AM
Wahyu Eka Setyawan
+ postingan

Sedang belajar di WALHI Jawa Timur, tengah menekuni Sosiologi Pedesaan dengan minat Ekologi Manusia dan Psikologi Komunitas.

Leave a Reply