Air adalah sumber dasar kehidupan manusia. Tanpa zat tersebut manusia tidak akan mampu bertahan hidup. Aktivitas manusia di dunia selalu berkaitan dengan air, mulai dari aktivitas sehari-hari hingga aktivitas bisnis. Meskipun demikian, air juga dapat menjadi bencana bagi manusia bila tidak dikelola dengan baik. Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tahun 2020, sebanyak 1.080 bencana banjir terjadi sepanjang tahun tersebut di Indonesia. Jumlah ini merupakan 36,5% dari 2.952 frekuensi bencana yang terjadi di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan air tidak selalu berimplikasi positif, tetapi juga negatif jika dilihat dari perspektif kebermanfaatannya dalam kehidupan manusia.

Penggunaan air sebagai aspek penting dalam hidup manusia juga merambah aktivitas perekonomian dan industri. Salah satu industri yang bergantung terhadap air adalah air minum dalam kemasan (AMDK). Nyatanya, satu merek terbesar industri ini menggunakan 16,142 juta m3 air tanah pada tahun 2018 untuk melakukan kegiatan bisnis (Laporan Keberlanjutan Danone-Aqua, 2018: 58). Data penggunaan air ini merupakan satu contoh dari banyaknya penggunaan air untuk aktivitas bisnis. Oleh karena itu, apabila suatu perusahaan tidak menerapkan prinsip keberlanjutan sumber daya air layak akan habis dan berdampak pada kegiatan ekonomi. Akan tetapi seringkali penggunaan air tidak diikuti dengan aspek keberlanjutan.

Bukan hal yang baru untuk kita mendengar suatu ekosistem di Indonesia sudah tercemar. Mungkin hal ini terjadi di sungai yang ada di sekitar kita. Faktanya, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 46% sungai di Indonesia dalam keadaan status tercemar berat, 32% tercemar sedang berat, 14% tercemar sedang, dan 8% tercemar ringan. Fakta yang lebih mengejutkan lagi, mengutip dari National Geographic Indonesia Sungai Citarum menjadi salah satu sungai yang paling tercemar di dunia.

Buruknya kualitas air sungai di Indonesia berpengaruh pada berbagai aspek, mulai dari kesehatan, industri, hingga bencana alam seperti banjir. Namun, permasalahan air bukan hanya pada kualitas air yang buruk dalam suatu ekosistem. Banyak sekali kasus krisis air yang terjadi di dunia. Penulis meyakini pembaca pernah mendengar atau melihat berita di mana Jakarta sedang mengalami banjir yang parah, sedangkan Somalia sedang mengalami kekeringan. Itu adalah salah satu contoh krisis air yang sedang dunia hadapi saat ini.

Pemerintah dan dunia sendiri telah berkomitmen untuk mengentaskan masalah air dalam agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau yang akrab disebut dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Tujuan untuk mengentaskan masalah air ini tertuang pada Tujuan 6, Air Bersih dan Sanitasi Layak. Berdasarkan dokumen pencapaian tujuan 6 Sustainable Development Goals (SDGs) permasalahan yang dihadapi terkait tujuan 6 ialah lemahnya tata kelola dan kelembagaan penyelenggaraan air minum, rendahnya komitmen serta kapasitas pemerintah sebagai penyelenggara utama dari sistem penyediaan air minum (SPAM), belum optimalnya  operasionalisasi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT), lemahnya Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik (SPALD), dan penyediaan air baku yang masih rendah (Kementerian PPN/Bappenas, 2020: 5).

Strategi Berkelanjutan dan Dampaknya terhadap Anak Muda

Saat membaca fakta di atas, pembaca terutama anak muda mungkin tidak terlalu terhubung dan merasa akan berdampak pada kehidupannya. Tetapi, tanpa disadari permasalahan tersebut sangat dekat dengan kehidupan kita. Dampak yang dirasakan perlahan mulai terlihat dari meningkatnya kasus banjir yang terjadi dengan pesat. Kasus banjir meroket lebih dari 100% dalam 18 tahun terakhir, dari 86 kasus banjir  pada tahun 2002 menjadi 1.080 kasus banjir pada tahun 2020. Menurut Joint Monitoring Review dari World Health Organization (WHO) dan United Nations Children’s Fund (UNICEF) setiap tahunnya terdapat lebih dari 150.000 anak di Indonesia yang meninggal karena sanitasi tidak layak, diare, dan pneumonia.  Kejadian ini bukan hanya sekedar angka atau persentase tetapi ini adalah contoh akibat dari kerusakan lingkungan terutama ketika kita tidak menghargai air.

Dalam Kajian Lingkunagn Hidup Strategi (KLHS) pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2019 yang dipublikasikan Kementerian PPN/Bappenas, ketersediaan air akan mencapai kelangkaan absolut atau tidak mencukupi kebutuhan air manusia pada tahun 2040 khususnya pada pulau Jawa. Fakta ini mungkin akan dianggap mayoritas orang sebagai jangka waktu yang cukup lama untuk menikmati air, pada kenyataannya tidak demikian. BBC melansir Jakarta tergolong dalam lima kota teratas di dunia yang akan mengalami krisis kelangkaan air bersih dalam beberapa waktu ke depan. 

Generasi yang akan memimpin dan mengambil keputusan pada masa mendatang adalah anak-anak muda. Tidak terbayangkan jika generasi tersebut akan mengalami kondisi kelangkaan air secara absolut dan tidak mampu memenuhi kebutuhan air untuk hidup sehari-hari. Sebagai contoh kecil, terhentinya suplai air PAM dalam jangka waktu sebentar saja dapat menimbulkan keresahan di masyarakat. Bayangkan jika terhenti secara permanen akibat krisis air yang terjadi dalam jangka waktu panjang dan generasi muda paling terdampak.

Hal tersebut, harus ditanggulangi secara serius baik oleh pemerintah, swasta, bahkan publik secara luas. Berhasil atau tidaknya Indonesia dalam menghargai dan mengelola air secara berkelanjutan akan berdampak langsung pada masa depan dan kualitas hidup generasi yang akan datang terutama anak muda. Generasi inilah yang akan menghadapi kondisi kelangkaan dan kelangsungan kualitas serta kuantitas air. Anak muda masa kini juga yang akan menjadi pengambilan keputusan di masa mendatang. 

Jika seluruh pemangku kepentingan hanya bergerak secara business as usual tanpa memikirkan strategi keberlanjutannya, maka hal ini dapat menjadi bom waktu dengan dua pilihan, yaitu, menerapkan strategi keberlanjutan atau bergerak statis dan menunggu kehancuran? Sudah saatnya anak muda berperan dan berkolaborasi dengan para pemangku kepentingan untuk menghargai air dan menerapkan strategi tata kelola air yang berkelanjutan. 

Prinsip keberlanjutan atau sustainability sangat terkait dengan pembangunan berkelanjutan (sustainable development), yaitu, pembangunan yang memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhannya sendiri. Hal ini dapat menajadi solusi untuk pemasalahan tata kelola air.  Konsep sustainable development mengombinasikan pembangunan ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam kerangka kebijakan pada setiap aspek kehidupan. Pembangunan berkelanjutan tidak lepas dari kelestarian lingkungan. Sinergi tiga aspek tersebut digambarkan dalam pembangunan ekonomi yang tidak merusak lingkungan dan mempromosikan keadilan sosial atau pembangunan yang harmonis sehingga terciptanya kesejahteraan ekonomi untuk memelihara lingkungan sehingga mendukung kehidupan manusia.​ (Pearce dan Warford, 1993 dalam Suparmoko 2020: 40-41). Lingkungan yang lestari diharapkan dapat menopang kehidupan manusia dan makhluk lainya. Dengan demikian, pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan mampu meningkatkan mutu hidup generasi masa sekarang dan masa depan (Rosana, 2018: 152). 

Tantangan Tata Kelola Air yang Berkelanjutan dan Peran Generasi Muda 

Terdapat tiga pilar utama dalam strategi keberlanjutan, yaitu, ekonomi, lingkungan, dan sosial. Ketiga pilar ini bermakna bahwa dalam pembangunan juga perlu memperhatikan dampak kepada manusia dan kelangsungan bumi kita. Untuk berkontribusi menciptakan air yang berkelanjutan anak muda dapat memulai langkah sederhana. Setidaknya terdapat tiga cara bagi anak muda untuk berperan dalam mewujudkan tata kelola air yang berkelanjutan. 

Pertama, anak muda yang berkecimpung dalam organisasi swadaya masyarakat dapat mengedukasi terkait pentingnya menjaga dan menghargai air sebagai sumber kehidupan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Mereka juga dapat mendorong anak muda lainnya melakukan inisiasi dalam menghargai air. Kemudian, masyarakat dapat didorong untuk melakukan program yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Semisal membuat sumur resapan yang digunakan untuk menampung air hujan agar dapat meresap ke dalam tanah untuk dimanfaatkan.

Kedua, anak muda yang bekerja di korporasi dapat berperan mempengaruhi kebijakan perusahaan untuk menerapkan strategi keberlanjutan dalam bisnis dan menciptakan circular economy. Circular economy merupakan sistem ekonomi yang mengurangi, menggunakan kembali, mendaur ulang, dan memperbaiki alat dan bahan produksi sehingga secara bersamaan menciptakan kesejahteraan lingkungan, ekonomi, dan keadilan sosial bagi generasi sekarang dan yang akan datang (Kusumaningrum dan Safitra, 2019: 14). Korporasi memiliki peran vital dalam menjaga lingkungan terutama dengan adanya konsep tanggung jawab sosial dan lingkungan atau corporate social responsibility (CSR). Selain itu, anak muda yang menjadi bagian internal korporasi dapat mendorong masyarakat untuk menggunakan produk yang ramah lingkungan atau eco-friendly. Dengan demikian, secara tidak langsung juga akan mengarahkan perusahaan melaksanakan praktik bisnis yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Ketiga, anak muda yang bekerja di birokrasi pemerintahan baik pada level nasional maupun daerah dapat menjadi penyambung target yang ditetapkan oleh pemerintah, korporasi, maupun organisasi swadaya masyarakat. Hal ini tentu saja termasuk juga mendorong institusi publik berkolaborasi dengan semua elemen masyarakat agar kebijakan pemerintah selaras dengan aspirasi publik. 

Anak muda juga mempunyai kekuatan dalam menyuarakan isu tertentu. Sebagai contoh anak muda sangat berperan dalam berkembangnya trend yang ada di media sosial dan dapat mengangkat suatu isu menjadi viral melalui konten kreatif maupun tulisan. Dengan menggabungkan kekuatan seluruh anak muda dan bergerak bersama, anak muda akan meningkatkan kesadaran seluruh pemangku kepentingan dalam menghargai air serta mendorong dialog untuk terbentuknya pemahaman dan solusi yang tepat sesuai dengan kondisi dan situasi tiap lingkungan di setiap daerah.

Menghargai air dan menerapkan tata kelola air yang berkelanjutan merupakan suatu upaya yang wajib ditempuh untuk memastikan ketersediaan air baik dari segi kuantitas maupun kualitas bagi generasi mendatang. Bergerak statis secara business as usual akan membawa generasi muda dan dunia secara perlahan pada kondisi kelangkaan air absolut. Oleh karena itu, anak muda dapat memainkan peran penting dalam pelestarian air dan menjadi katalisator untuk setiap sektor serta berkolaborasi dalam mewujudkan tata kelola air yang berkelanjutan. Selain itu, sangat penting bagi anak muda untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan terkait strategi berkelanjutan yang sejalan dengan pembangunan berkelanjutan. Sebab, pada masa yang akan datang, merekalah yang akan menjadi pengambil keputusan untuk mewujudkan dunia yang lebih baik lagi.

Referensi

  1. Kementerian PPN/Bappenas. 2020. Air Bersih dan Sanitasi Layak. Jakarta (Kementerian PPN/Bappenas).
  2. Kusumaningrum Aryati Dinta dan Safitra Dhian A. 2020. Era Ekonomi Berkelanjutan: Studi Literatur Tentang Gerakan Bisnis Berkelanjutan. Vol 17, No 1, Maret 2020 pp. 10-17.
  3. Laporan Keberlanjutan PT Tirta Investama (Danone-Aqua). 2018.
  4. Rosana, Mira. 2018. Kebijakan Pembangunan Berkelanjutan yang Berwawasan Lingkungan di Indonesia. Jurnal KELOLA: Ilmu Sosial. Volume 1, No 1, Halaman 148-163.
  5. Suparmoko, Muhammad. (2020). Konsep Pembangunan Berkelanjutan dalam Perencanaan pembangunan Nasionala dan Regional. (Jurnal Ekonomika dan Manajemen, Vo. 9, No. 1, April).

Tentang Penulis

bb261cdd 532a 49b4 847f 2f36bd9159dd
Andrian Dwi Kurniawan
+ postingan

Andrian Dwi Kurniawan memiliki fokus pada Youth Development, SDGs dan Sustainability. Saat ini ia bekerja sebagai sustainability consultant, co-founder voluntreep dan co coordinator 2030 YouthForce Indonesia.

1 thought on “Strategi Tata Kelola Air yang Berkelanjutan untuk Anak Muda”

Leave a Reply