“Berdasarkan SURVEI dan STUDI ETNOGRAFIS terhadap 1,200 peserta didik, pembelajaran jarak jauh tidak meningkatkan capaian akademis.”

“Berdasarkan EKSPERIMEN terhadap 1,200 peserta didik, pembelajaran jarak jauh tidak meningkatkan capaian akademis.”

Dua kutipan di atas berupaya menyuguhkan potret realitas terkait pembelajaran online dengan landasan metodologis yang berbeda. Kendati demikian, mana yang lebih representatif terhadap kenyataan? 

Sains, dalam hal ini ilmu-ilmu sosial, berperan untuk merepresentasikan realita dalam wujud yang mudah dipahami. Hanya saja, produk tertulis dari ilmu-ilmu sosial sepertinya tidak melulu membuat para pembacanya menjadi lebih dekat dengan kenyataan apalagi memperoleh gambaran yang sempurna tentang realita sosial yang didefinisikan sejak awal. 

Barangkali, sedikitnya ada dua faktor yang membuat produk-produk akademis jauh dari kenyataan sosial yang justru hendak didekati. 

Faktor pertama yang mungkin paling kontroversial adalah meresapnya ideologi tertentu ke dalam proses produksi pengetahuan. Ini membuatnya menjadi bias karena gambaran realita sudah dicengkram oleh batas-batas normatif dari ideologi tersebut.

Pengaruh ideologis dapat mewujud dalam pemilihan subjek penelitian, pemilihan metode pencarian data, dan pemilihan cakupan maupun jenis informasi yang hendak dikumpulkan. 

Akibatnya, sejak awal sudah bisa ditebak arah atau bunyi dari narasi akademis yang akan diproduksi dan ia sengaja dihasilkan guna memengaruhi publik untuk memikirkan apa yang seharusnya, apa yang baik, dan apa yang benar menurut standar normatif tertentu. 

Faktor kedua yang dapat mengganggu keakuratan dari narasi akademis terkait dengan relasi antara landasan ontologis dan perangkat epistemologis dari suatu inkuiri. 

Sudah bukan rahasia bahwa ilmu-ilmu sosial memiliki lebih dari satu tradisi penelitian yang bahkan dapat digunakan untuk mengkaji satu fenomena yang sama. Apapun itu, setiap tradisi memiliki standar tersendiri mengenai karakteristik/hakikat dari yang disebut sebagai realita sosial. Inilah yang umum dikenal sebagai ontologi. 

Ada perspektif yang menganggap bahwa realita sosial senantiasa berubah tergantung dari manusia-manusia yang memaknainya dan memperdebatkannya dalam suatu latar sosial dan budaya tertentu.

Di sisi lain, ada yang berasumsi bahwa realita sosial bersifat objektif karena tidak bergantung dari bagaimana para manusia yang menjadi objek studi melakukan pemaknaan terhadap lingkungan hidupnya. 

Selain itu, ada pula pendekatan yang mengkritik keduanya lalu mengajukan satu perspektif yang mengintegrasikan keduanya. Bahkan dalam konteks kasus tertentu, tampaknya ada ontologi tertentu yang dianggap lebih relevan sebagai asumsi mendasar dari aktivitas produksi pengetahuan tentang kasus tersebut.

Setiap asumsi ontologis mensyaratkan perangkat epistemologis yang sesuai. Bagaimana hakikat dari realita sosial didefinisikan sejak awal menentukan apa/dari siapa informasi yang harus didapatkan, cara memperolehnya, dan bentuk informasi untuk mengkonstruksi gambaran tentang realita sosial.

Misalnya, ada yang berargumen bahwa model-model matematis dari hasil eksperimen lebih representatif untuk menggambarkan suatu realita tanpa peduli bagaimana individu-individu memaknai realita tersebut. 

Sebaliknya, ada yang memandang bahwa narasi-narasi setiap individu yang diwawancara lebih akurat untuk disusun menjadi gambaran akan kenyataan hidup mereka. 

Ketidakcocokan antara ciri khas dari realita sosial yang dirumuskan sejak awal dengan cara memperoleh informasi untuk menggambarkannya membuat produk akademis menjadi berjarak dari realita sosial tersebut. Ini dapat terjadi sekalipun informasi yang dikumpulkan bersifat faktual/tidak direkayasa. 

Sebaliknya, kecocokan antara kasus, dasar ontologis, dan perangkat epistemologis dapat menghasilkan produk akademis yang sangat mendekati realita atau bahkan secara sempurna menampilkan realita. 

To know how to establish a questionnaire and what to do with the facts it produces, one has to know what the questionnaire does, i.e., among other things, what it cannot do.” – Pierre Bourdieu, et. al.

Tentang Penulis

ce3ac750 21f6 44d3 8824 0d2db32d0b8d
Stephen Pratama
+ postingan

Stephen Pratama's research areas are sociological theories of education, the political economy of teacher welfare, education and inequality, the politics of school knowledge and transformations of educational systems.

Leave a Reply