Pada masa kuliah, mahasiswa dihadapkan dengan banyak pertimbangan yang akan memengaruhi keputusan hidupnya di masa mendatang: keputusan pekerjaan, pasangan hidup, dan gaya hidup. Wajar untuk mengatakan masa kuliah sebagai salah satu masa yang bisa mengganggu kondisi mental.

Namun, sebuah studi pendahuluan (30/06/2021) yang dilakukan oleh tiga peneliti asal Universitas Al Azhar Indonesia; Nurfadilah, Anisa Rahmadani, dan Bahrul Ulum menunjukkan tidak sedikit mahasiswa yang belum menggunakan layanan bantuan psikologis.

Ketiga peneliti menggunakan kuesioner Attitude Toward Seeking Professional Psychological Help dan wawancara melalui telepon. Dengan menghubungi 192 mahasiswa, studi ini menemukan bahwa mayoritas mahasiswa belum pernah melakukan konsultasi psikologis. Sedangkan mahasiswa yang telah menggunakan layanan bantuan psikologis di kampus merasa belum cukup puas dengan pelayanan tersebut.

Stigma menjadi salah satu alasan kenapa mahasiswa enggan mengakses layanan bantuan psikologis di kampus. Mereka merasa malu dan takut apabila teman-temannya mendapati mereka mengakses layanan psikologis. Jadi, layanan di luar kampus lebih menarik mereka daripada layanan dalam kampus.

Hanya sedikit mahasiswa telah mendengar kabar dan mengetahui adanya unit layanan psikologi di kampus mereka. Ini menunjukkan perlunya peninjauan ulang atas segala upaya kampanye kesehatan mental yang dilakukan oleh pihak kampus.

Penyedia layanan psikologis perlu memperhatikan temuan ini. Apabila dibiarkan begitu saja, ketiga peneliti percaya mahasiswa akan berubah sikapnya menjadi tidak peduli dan kurang tertarik untuk menjangkau pihak profesional dalam menyelesaikan gangguan mental.

Adanya stigma sebagai penghalang akses mahasiswa ke layanan bantuan psikologis menunjukkan pentingnya dukungan orang-orang sekitar dan teman sebaya. Menurut ketiga peneliti, isu kesehatan mental akan lebih mudah ditanggulangi jika pendekatannya dilakukan pada tingkat pola individu dalam mencari bantuan psikologis.

Evaluasi pada unit layanan bantuan psikologi juga perlu dilakukan agar kesadaran mahasiswa atas kesehatan mental meningkat dan dapat mengakses layanan tersebut tanpa rasa malu dan takut.

Sebagai studi pendahuluan, studi ini hanya dapat mendeskripsikan apa dan bagaimana atas fenomena kesehatan mental pada mahasiswa. Studi lebih lanjut dibutuhkan untuk meraih sampel yang lebih luas dan memberikan penjelasan lebih lanjut atas penggunaan layanan kesehatan mental di kalangan mahasiswa.

Penulis: Moh Alfarizqy
Editor: Isma Swastiningrum

Tentang Penulis

Website | + postingan

Berdiri sejak tahun 2020, Sosial Logi adalah media populer yang membumikan ilmu sosial di Indonesia.

Tags:

Leave a Reply