Kualitas hidup terkadang diukur dari satu sisi saja. Ada yang mengukur hanya dari sisi indikator ekonomi (misalnya, pendapatan), indikator sosial (misalnya, angka kelahiran), atau indikator subyektif (misalnya, kepuasan hidup).

Namun, ada indikator baru yang muncul pada (22/06/2021) dari hasil kolaborasi para ekonom. Dalam artikel mereka, para ekonom lintas benua dari Universitas Erasmus, Nantes, dan Thomas Sankara; Renaud Gaucher, Issaka Dialga, dan Coralie Vennin mengajukan indikator komposit (gabungan) baru untuk mengukur kualitas hidup. 

Ketiga Ekonom percaya pada perlunya menggunakan cara berpikir induktif untuk mengukur kualitas hidup karena individu dianggap lebih mengetahui apa yang penting bagi dirinya. Mereka mengajukan indikator-indikator yang secara personal penting, lalu digabungkan dalam bobot yang setara; tidak ada satu indikator yang lebih penting daripada lainnya. Indikator ini disebut sebagai happy, long and sustainable life indicator.

Untuk mengukur kebahagiaan, mereka menggunakan pendekatan utilitarianisme negatif. Dalam pendekatan ini kebahagiaan diukur dengan cara melihat seberapa bahagia orang yang sebelumnya kurang atau tidak bahagia. Kebahagiaan diukur pertama-tama dengan cara mengidentifikasi orang-orang yang kurang atau tidak bahagia dalam populasi. Kemudian dicari tau kebijakan yang dapat membuat mereka lebih bahagia. Perubahan kebahagiaan mereka lalu diukur dengan skala respons numerik (yakni 1-10).

Pendekatan utilitarianisme negatif juga digunakan untuk mengukur panjangnya hidup (longevity). Biasanya, durasi hidup diukur dengan harapan hidup saat lahir (life expectancy at birth). Masalah dari pengukuran semacam itu adalah ketidakpastian berapa lama seseorang akan hidup pada masa hidupnya. Dalam artikel ini, ketiga penulis mengukur panjangnya umur dengan melihat kematian dini, bukannya lama hidup. Potential Years of Life Lost menjadi variabel yang mewakili indikator panjang umur.

Adapun komponen terakhir yang diukur dalam indikator ini adalah rasio keberlanjutan. Rasio keberlanjutan diukur dengan memodifikasi konsep defisit/cadangan ekologis. Ketiga ekonom mengajukan rasio keberlanjutan diperoleh dari pembagian nilai biocapacity dengan jejak ekologis pada satu daerah yang sama. Jika rasionya sama dengan atau lebih dari 1, maka biocapacity daerah tersebut cukup. Artinya, semakin bebas alam dari aktivitas manusia. Ironisnya, banyak negara memiliki rasio yang tidak lebih dari 1.

Indikator komposit ini adalah usulan yang tidak biasa untuk kebijakan publik, yang sering mengukur kualitas hidup dengan menyamaratakan nilai kebahagiaan. Selain itu, indikator ini juga bisa meletakkan bobot yang lebih tinggi pada satu komponen saja (misalnya, bobot tingkat sustainability lebih besar daripada kebahagiaan dan panjang umur) sesuai dengan preferensi dan perkembangan ilmiah terbaru.

Ruang untuk lebih lanjut mempelajari indikator ini terbuka luas. Masih diperlukan pemahaman yang lebih baik atas komponen-komponen dalam indikator ini. Misalnya pada definisi kebahagiaan dan cara mengukurnya. Studi lebih lanjut juga diperlukan untuk mengetahui korelasi happy, long and sustainable life indicator dengan indikator lainnya seperti Human Development Index.

Penulis: Moh Alfarizqy
Editor: Septyawan Akbar

Tentang Penulis

Website | + postingan

Berdiri sejak tahun 2020, Sosial Logi adalah media populer yang membumikan ilmu sosial di Indonesia.

Tags:

Leave a Reply