Mayoritas masyarakat Indonesia selama ini merasa tidak puas dengan penangan kasus kekerasan seksual yang diterapkan. Banyak diantaranya, kasus kekerasan seksual yang mandek atau bahkan terlupakan. 

Padahal, masyarakat menantikan tindakan yang memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap pelaku. Dengan begitu, rantai pelecehan seksual bisa diputus. Seperti yang dikemukakan oleh studi Barometer Kesetaraan Gender misalnya, masyarakat menuntut adanya rehabilitasi bagi para pelaku kekerasan seksual.

Ide rehabilitasi ini bisa menjanjikan. Sebab, menurut studi yang dilakukan oleh Siebrecht Vanhooren dan koleganya, para pelaku kekerasan seksual mendapatkan dorongan dan bantuan mengubah dirinya menjadi manusia yang lebih baik setelah hidup di penjara dan diterapi.

Dengan mengkombinasikan metode kuantitatif dan kualitatif, mereka menemukan pelaku kekerasan mengalami perubahan positif setelah mendapati pengalaman yang berat di dalam penjara, dan direhabilitasi. 

Pada masa penahanan mereka memikirkan ulang arah hidupnya dan kekejaman apa yang telah mereka lakukan sebelumnya. Sedangkan praktik terapi membantu mereka untuk mengadopsi perspektif dan makna yang baru atas kehidupan pasca lepas dari rumah tahanan.

Letak titik balik para pelaku kekerasan seksual

Temuan mereka sejalan dengan pendekatan humanistik dalam menangani pelaku kekerasan. Salah satu pendekatannya disebut sebagai Good Live Model (GLM). 

Pendekatan ini percaya, para pelaku memiliki kebutuhan eksistensial yang sama dengan orang-orang pada umumnya. Mereka ingin mencintai dan dicintai, dan menjalin hubungan serta hidup yang bermakna. 

Namun, cara yang mereka tempuh untuk memenuhi kebutuhan eksistensial itu cenderung antisosial dan menyimpang.

Dengan memenuhi kebutuhan itu dalam cara yang tepat, pendekatan GLM percaya tekanan mental pelaku akan menurun. Kemudian, kesempatan untuk mengubah diri secara positif akan muncul.

Vanhooren dan koleganya membawa kepercayaan itu ke dalam sebuah pengujian ilmiah. Mereka menguji keberadaan hubungan antara tekanan psikologis dan post-traumatic growth.

Post-traumatic growth menjelaskan perubahan positif pada diri seseorang yang telah menghadapi pengalaman traumatis. 

Orang-orang yang telah melalui perjuangan mental (misalnya, menyaksikan pembunuhan dan pengeboman) seringkali dapat melihat ruang untuk menumbuhkan diri. Pertumbuhan diri ini dapat berupa makna diri yang baru, makna hidup yang berbeda, dan pemaknaan yang lebih baik atas kehidupan bersama.

Dengan menyebar kuesioner kepada 30 pelaku kekerasan seksual, mereka menemukan “tingginya tingkat post-traumatic growth berhubungan dengan rendahnya tingkat tekanan psikologis.” Hubungan statistik ini mengindikasikan bahwa para pelaku mulai mencari makna hidup baru setelah mereka mengalami masa penuh tekanan di penjara. 

Terapi, kemudian, membantu dan mempercepat mereka menemukan makna baru dalam hidup.

Di fase riset berikutnya, tim peneliti meminta para partisipan untuk merefleksikan pengalaman mereka semasa di penjara, peranan terapi, perubahan diri, dan makna-makna hidup yang baru yang mereka dapati.

“Memotong siklus pencabulan di keluarga saya adalah tujuan terpenting”

Menjadi tahanan penjara dipahami sebagai pengalaman yang sangat negatif dalam hidup para pelaku. 

“[Rasanya] kamu kehilangan segalanya… Satu-satunya hal yang dapat saya lakukan pada saat itu adalah bertahan hidup dan mengingat bahwa suatu hari nanti saya akan keluar,” akuan Alex, seorang lelaki paruh baya. Pada masa ini, para pelaku kekerasan seksual merasa kehilangan martabat, kepercayaan diri, dan teman. 

Mereka pun ketakutan akan munculnya serangan dari sesama tahanan. Bahkan dalam serangan tiba-tiba itu, para petugas penjara bisa saja membiarkan penyerangannya terjadi.

Walaupun begitu, justru pada masa sangat sulit seperti inilah para pelaku kekerasan seksual mulai mempertanyakan eksistensi diri mereka. 

Penjara memfasilitasi refleksi mendalam dan menggeser makna hidup para pelaku. Mereka mulai merasakan betapa pentingnya hubungan dan dukungan emosional dari orang-orang terdekat. 

“Tanpa dukungan dan kunjungan darinya (istri), saya tidak akan selamat di siksaan ini,” ungkap George, salah satu pelaku kekerasan.

Rasa syukur atas hidup pun mulai berkembang selama di penjara. Pergeseran tujuan hidup juga terjadi sepanjang masa penahanan. 

Temuan itu mengonfirmasi riset-riset sebelumnya yang mengajukan penjara sebagai tempat di mana makna-makna atas kehidupan dibentuk kembali. 

Terapi setelah masa tahanan berperan untuk memperdalam dan mempercepat proses perubahan diri itu. “Ada waktu di mana para pelaku mengintegrasikan [refleksi] ini pada kepribadian dan rencana hidup mereka,” jelas Vanhooren dan koleganya.

Perubahan diri para pelaku tidak terjadi secara linear. Terkadang, terapi justru meningkatkan perasaan tertekan, utamanya ketika terapis membahas perilaku kriminal dan latar belakang para pelaku. 

Kombinasi penahanan dan rehabilitasi dapat mengubah para pelaku kekerasan seksual menjadi individu yang prososial, dan bertanggung jawab atas pelecehan yang telah dilakukan.

Studi lebih lanjut dibutuhkan untuk melakukan pengujian statistik yang lebih kompleks, serta mempelajari pemaknaan para pelaku, proses terapi, dan perubahan diri pelaku pasca terapi.

Penulis: Moh Alfarizqy
Editor: Soerere

Tentang Penulis

Website | + postingan

Berdiri sejak tahun 2020, Sosial Logi adalah media populer yang membumikan ilmu sosial di Indonesia.

1 thought on “Pelaku kekerasan seksual juga bisa direhabilitasi. Apa efeknya?”

Leave a Reply