Banyak orang mengaitkan Soekarno dengan mitos-mitos Jawa. Mulai dari momen kelahirannya, hingga kecocokan wetonnya dengan Ibu Fatmawati. Namun nyatanya bukan hanya mitos; konsep kepemimpinan ideal orang Jawa juga ada di dalam sosok presiden pertama Indonesia ini.

“Soekarno sering menunjukkan kemampuannya menyinkronkan dan menyerap ajaran agama dan teori politik yang berbeda,” Ungkap Baskara T. Wardaya dalam studi yang terbit di jurnal Paramita, Kamis (30/9/2021). Peneliti asal Universitas Sanata Dharma ini mempelajari bagaimana filosofi Jawa tentang kekuasaan turut membentuk pandangan Soekarno atas dunia, Indonesia, dan dirinya sendiri. 

Dengan meneliti dokumen-dokumen penting tentang Soekarno, Baskara menyimpulkan anak dari pasangan Raden Sukemi Sosrodihardjo dan Ida Njoman Rai ini juga mengembangkan pemikirannya uniknya sendiri.

Baskara juga menyampaikan, Soekarno muda sudah menggambarkan masa depan di mana orang-orang bisa bersatu apapun keyakinan dan pandangan politiknya. Ini sesuai dengan konsep pemimpin Jawa sejati yang diharuskan memiliki kemampuan untuk menerima dan menggabungkan semua perbedaan ajaran yang ada. Dengan cara ini, pemimpin Jawa yang ideal tidak akan memiliki musuh yang mengganggu stabilitas pemerintahannya.

Istilah Nasakom, ungkap Baskara, sangat mencerminkan gaya kepemimpinan Jawa ala Soekarno. 

Di tengah panasnya situasi politik pada masa kepemimpinannya, Bung Karno “berusaha menyatukan lawan politik yang antagonistik itu dan membuat mereka bekerja sama untuk negara,” jelasnya. Ini menunjukkan dirinya memiliki keinginan yang kuat untuk membangun kesatuan, eka, tunggal, manunggal di ranah politik nasional.

Kepercayaan Soekarno pada kesatuan juga tercermin dari penolakannya pada konsep negara federalisme yang diajukan oleh Belanda. Dia bahkan membedakan dirinya dari Mohammad Hatta yang federalis. Bung Karno pun menuding keterpurukan Indonesia pada tahun 1950-1962 terjadi karena menganut sistem federal.

Bergabungnya Indonesia ke dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga merefleksikan konsep chakravartin. Melalui konsep ini, pemimpin Jawa harus mampu membangun perdamaian dan kolaborasi antar bangsa.

Bagi Baskara, metode kepemimpinan Soekarno tidak kaku. Soekarno adalah salah satu orang yang paling getol membela Pancasila, yakni sekumpulan prinsip yang asing dari tradisi kekuasaan Jawa. Berdirinya negara Indonesia sebagai negara republik juga menunjukkan fleksibilitasnya dengan paham-paham luar Jawa seperti demokrasi dan keadilan sosial. 

Kemampuan Soekarno untuk meleburkan sejumlah ide sekaligus menerapkannya secara fleksibel bisa dipandang sebagai bukti “ketaatan yang kuat (walaupun dinamis) pada konsep kekuasaan Jawa,” tandas Baskara.

Penulis: Moh Alfarizqy
Editor: Isma Swastiningrum

Tentang Penulis

Website | + postingan

Berdiri sejak tahun 2020, Sosial Logi adalah media populer yang membumikan ilmu sosial di Indonesia.

Tags:

Leave a Reply