Ilmuwan sosial meyakini relativitas bahasa menyebabkan cara pandang setiap orang berbeda. Masing-masing bahasa memiliki karakter yang unik dan makna yang digunakan juga unik. Namun, sebuah studi yang terbit pada April lalu (1/4/2021) membuktikan bahwa relativitas bahasa juga bisa terjadi di dalam isu politis yang diberitakan oleh media yang menggunakan bahasa yang sama.

Federico Mor, Erin J. Nash, dan Fergus Green dari Parlemen Inggris, Universitas Durham, dan Universitas Utrecht menggunakan mesin belajar pada publikasi online New York Times (NYT) dan Breitbart dari 1 Januari 2016 hingga 20 Juni 2018. Dengan berfokus pada topik yang diperdebatkan di Amerika Serikat, ketiga peneliti membuat model kata dari NYT dan Breitbart.

Isu aborsi dalam NYT berhubungan dengan kata “gay rights” dan “affirmative_action” sedangkan di Breitbart topik itu berhubungan dengan kata “abortion industry” dan “naral [NARAL]”. Breitbart menyatukan isu aborsi dengan grup advokasinya yang mana digambarkan sebagai “political lobbying group for the abortion industry”. Begitu juga kata “abortion rights” yang disinonimkan dengan kata “abortion industry”.

Kata-kata yang paling berhubungan dengan aborsi di Breitbart, tegas peneliti, menunjukkan bahwa hak aborsi masuk ke dalam fokus pembahasan yang khusus di Breitbart. Sedangkan di NYT, hak aborsi adalah salah satu bentuk hak seperti halnya dengan hak sipil dan hak kepemilikan senjata api.

Perbedaan pemberitaan ini, kata tiga peneliti ini, memiliki beberapa efek. Pertama, sebuah isu bisa ditampilkan sebagai kontroversi alih-alih fakta. Misalnya, dalam isu perubahan iklim Breitbart mengabaikan isu ilmiahnya dan memberikan informasi yang menyesatkan. Faktanya, penyebab kunci dari perubahan iklim sudah diterima oleh mayoritas ilmuwan iklim sejak tahun 1990an.

Efek kedua adalah penguatan rasa keanggotaan in-group dan pemusuhan out-group berdasarkan pada suatu isu. Bagi NYT, isu perubahan iklim berhubungan dengan isu teknokratis, dan orang-orang kelas menengah maupun terdidik perlu memberikan solusi di sini.

Efek terakhir yang peneliti ajukan adalah kata-kata yang digunakan bisa memicu emosi yang kuat. Dalam hal ini, Breitbart membingkai isu aborsi dengan kata “abortion industry” yang mana secara sistematis memanen organ-organ bayi.

Relativitas bahasa dalam ibu bahasa yang sama, demikian ungkap tiga peneliti ini, juga perlu mendapat perhatian. Sebab ia pun bisa menghalangi perbincangan dan negosiasi politik khususnya jika sengaja dilakukan. Oleh karenanya, riset lebih lanjut sangat mendesak untuk memahami dan menyelesaikan persoalan ini.

Aplikasi yang bisa membangun kesadaran bahasa (metalinguistik) diajukan oleh ketiga peneliti sebagai solusi agar orang-orang bisa menyadari potensi perubahan makna karena perbedaan ideologi yang dimiliki setiap sumber berita.

Penulis: Moh Alfarizqy
Editor: Septyawan Akbar & Isma Swastiningrum

Tentang Penulis

Website | + postingan

Berdiri sejak tahun 2020, Sosial Logi adalah media populer yang membumikan ilmu sosial di Indonesia.

Tags:

Leave a Reply