Sebagai ilmu sosial yang masih sangat muda, definisi sosiologi terus mengalami perkembangan untuk meraih konsep dasar sosiologi yang makin bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari. Beberapa kemajuan yang mulai terlihat di sosiologi global adalah menguatnya perspektif evolusioner dan metode komputasi.

Andrew Abbott meramalkan kedua jenis pendekatan baru ini akan jadi sangat kuat untuk 20-40 tahun ke depannya.

Lalu, apa perbedaannya dengan pengertian sosiologi yang umumnya dipahami? Apa saja perangkat konseptual yang mendasari masing-masing perspektif? Berikut ini pengertian sosiologi dan konsep-konsep dasar dari semua perspektif.

Pengertian Sosiologi secara Umum

Konsep dasar sosiologi dalam pengertian umum, diwakili oleh sosiolog Amerika Serikat.
Pada umumnya, sosiologi dipahami sebagai ilmu sosial yang ada di antara sains dan humaniora.

Sosiologi singkatnya adalah sains tentang masyarakat manusia. Namun karena umurnya yang masih sangat muda, sosiologi terlibat dalam berbagai macam spekulasi filosofis dan ide-ide teoritik di teori sosial. Jadi, pengertian sosiologi adalah studi atas masyarakat yang memiliki banyak metodologi, mulai dari yang sangat ilmiah hingga yang sangat kritis dan humanistik.

Konsep Dasar Sosiologi secara Umum

1. Lembaga sosial

Lembaga sosial adalah aturan dan ekspresi yang membentuk masyarakat. Aturan dan ekspresi ini bentuknya tertulis dan tidak tertulis. ia bukan hanya berupa larangan dan perintah, tetapi juga mencakup apa saja yang orang-orang biasanya lakukan, hindari, dan abaikan. Dengan kata lain, lembaga sosial lahir juga (bahkan utamanya) karena adanya pola perilaku di sebuah masyarakat manusia. 

Semua masyarakat manusia punya lembaga pemerintahan, agama, pendidikan, ekonomi, dan keluarga. Tapi konsep lembaga sosial yang digunakan di sosiologi bukanlah organisasi bentukan pemerintah. Lembaga sosial adalah faktor pendorong sebuah pola perilaku dan kebiasaan di masyarakat.

2. Konstruksi sosial

Konstruksi sosial adalah ide atau praktik yang mana orang-orang setujui keberadaannya. Konstruksi sosial menjadi ada sepanjang orang-orang menerimanya tanpa mempertanyakannya lebih jauh. 

Sebagai contoh, sistem perkuliahan dan seleksi penerima beasiswa adalah konstruksi sosial pada ruang dan waktu yang spesifik. Disebut sebagai konstruksi sosial karena standar benar-salah, baik-buruk, atau spesifiknya standar seleksi mahasiswa ini terus berubah sepanjang berubahnya waktu dan trend pendidikan tinggi.

3. Struktur sosial

Struktur Sosial adalah jaringan kesempatan (opportunity) dan batasan (constraint) yang memengaruhi perilaku individu. Struktur sosial sifatnya bertahan lama, relatif stabil, dan ada di masyarakat, kelompok, atau organisasi sosial. Banyak teori-teori sosiologi makro berfokus menjelajahi struktur sosial untuk menemukan hukum dasar dari tatanan sosial.

4. Perubahan sosial

suksesi kejadian yang sepanjang waktu memproduksi modifikasi atau pergantian pola sosial. Pendekatan teoritik yang biasanya digunakan dalam studi perubahan sosial bisa dikategorikan ke dalam dua jenis. Pertama, ada pendekatan yang berusaha menemukan hukum-hukum dari perubahan sosial. Pendekatan ini percaya perubahan sosial dapat ditemukan hukumnya.

Pendekatan yang kedua adalah pendekatan yang menolak penjelasan teoritik yang berupaya menemukan hukum dasar. Mereka yang menggunakan pendekatan ini umumnya hanya berusaha menjelaskan sebuah kejadian historis. 

Pengertian Sosiologi Analitik

sosiologi analitik atau sosiologi komputasi
Sosiologi analitik menggunakan komputer dan simulasi untuk membuat teori

Sosiologi analitik adalah prinsip-prinsip dan alat-alat untuk membuat penjelasan berbasis mekanisme di sosiologi dan menghubungkannya dengan dunia empirik. Dalam sosiologi ini, ide teoritik yang abstrak harus diseimbangkan dengan realisme yang diasumsikan pada teori tersebut. Selain itu, sosiologi analitik menganggap perlunya menghubungkan komponen-komponen dasar dari tindakan individu ke struktur sosial di mana tindakan tersebut berada. 

Alat-alat yang digunakan dalam sosiologi analitik ada tiga. Pertama, analisis jaringan sosial, dapat digunakan untuk mendeskripsikan dan mengumpulkan pola sosial yang diamati. Kedua, simulasi numerik dari agent-based modelling, digunakan untuk mempelajari transisi tindakan ke struktur sosial. Ketiga, simulasi yang didorong oleh jenis data tertentu, untuk mencapai model mekanisme sosial yang paling pas dengan dunia empirik.

Konsep Dasar Sosiologi Analitik dan Komputasi

5. Kesempatan (Opportunity)

Kesempatan terdiri dari beragam pilihan yang bisa diambil oleh seseorang setelah dia mempertimbangkan batasan-batasan politik, sosial, ekonomi, dan teknis. Konsep kesempatan digunakan untuk menganalisis pilihan-pilihan yang dibuat oleh seseorang. Terkadang, pilihan dibuat seorang diri, kadang juga dibuat dengan mempertimbangkan apa yang orang lain akan lakukan.

Konsep kesempatan sering juga digunakan untuk mempelajari ketidaksetaraan dan hak sipil. Salah satu fokus studi dalam topik ini adalah kesetaraan kesempatan (equality of opportunity) dalam konteks jenis kelamin dan ras.

6. Preferensi

Preferensi bisa dipahami sebagai salah satu penyebab langsung dari tindakan yang intensional. Misalnya, orang-orang diberi pilihan antara es krim cokelat atau vanila. Pilihan seseorang pada es krim cokelat daripada vanila terjadi karena adanya preferensi. 

Dalam ilmu ekonomi yang menekankan teori pilihan rasional, preferensi sendiri sudah cukup untuk menjelaskan sebuah pilihan individu. Namun di sosiologi, preferensi dipahami dengan cara yang lebih luas. Kembali dengan contoh es krim, preferensi terhadap vanila daripada cokelat bisa diartikan bahwa orang tersebut cenderung memilih vanila daripada cokelat. Jadi, preferensi adalah karakterisasi dari kecenderungan perilaku atau pola yang tidak bisa direduksi pada tingkat mental state (misalnya, kondisi neurologis dan otak).

7. Norma

Norma sosial adalah norma yang dijaga keberadaannya dengan cara penerapan sanksi dan digunakan secara bersama-sama di komunitas atau kelompok sosialnya. Ini berarti norma sosial adalah ekspektasi yang terbagikan yang mana akan memicu reaksi yang menyakitkan dari orang lain jika dilanggar. 

Norma sosial berbeda dari norma moral karena ia memiliki emosi di dalamnya. Norma sosial berbeda juga dari kuasi-norma moral dan norma hukum. Norma hukum bergantung pada penegak hukum dan hukum yang berlaku.

Norma sosial juga berbeda dari konvensi. Konvensi tidak memerlukan sanksi untuk tetap ada, jadi patuhnya seseorang pada sebuah konvensi bergantung pada kepentingan masing-masing individu.

8. Kepercayaan (trust)

Kepercayaan (trust) adalah salah satu mekanisme yang mendorong terjadinya kerja sama dan mengatur tatanan sosial. Konsep ini berhubungan dengan risiko dan ketidakpastian/kerentanan. Jika kerentanan dieksploitasi tinggi, maka individu enggan untuk percaya.

Kepercayaan dapat dikategorikan menjadi dua: kepercayaan “tebal” dan kepercayaan “tipis”. Kepercayaan tebal ada di hubungan sosial yang sangat dekat seperti keluarga dan teman lama. Sedangkan kepercayaan tipis terdapat di hubungan organisasi dan kerja.

Dalam hubungan yang dekat seperti suami-istri dan keluarga, pelanggaran terhadap kepercayaan bisa sangat membekas. Jika terjadi, peranan kepercayaan dalam menjembatani kerja sama akan menurun.

Pengertian Sosiologi Evolusioner

Sosiologi evolusioner tidak lepas dari Darwinian
Meski didahului oleh sosiobiologi dan psikologi evolusioner, sosiologi evolusioner memiliki cara dan konsepnya sendiri atas evolusi masyarakat manusia

Sosiologi evolusioner baru telah muncul dengan memanfaatkan pendekatan stage modelling dan fungsionalisme. Memang, pada awal abad ke-20 pendekatan stage di evolusi mati di sosiologi, begitu juga dengan pendekatan fungsionalisme. Tapi di awal dekade abad ke-20, dua tradisi ini muncul kembali.

Teori-teori dari sosiobiologi memang memengaruhi sosiologi evolusioner, tapi kebanyakan sosiolog evolusioner tidak terlalu menggunakannya. Jadi, sosiologi evolusioner berbeda dari sosiobiologi. Satu alasan penting kenapa berbeda adalah karena pendekatan sosiobiologi tidak bisa menjelaskan dinamika struktur sosial dan kebudayaan.

Sosiologi evolusioner baru membawa ide seleksi multi-tingkat. Seleksi Darwinian tetap berlaku, tapi uniknya masyarakat manusia, evolusi sosiokultural (misalnya, struktur sosial dan budaya) dapat diubah oleh kapasitas agensi manusia. Dengan begitu, sifat evolusi di masyarakat manusia tidak sama dengan evolusi di masyarakat bukan manusia. Tanpa pemahaman semacam ini, evolusi akan terus terkurung dalam pandangan Darwinian.

Konsep Dasar Sosiologi Biososial dan Evolusioner

9. Evolusi Sosial

Evolusi sosial memang memiliki kesamaan dengan evolusi biologis. Keduanya didasarkan kepada rekaman-rekaman pengalaman yang terjaga dan diturunkan dari generasi ke generasi dalam bentuk sistem informasi. Keduanya juga terjadi dalam cara yang random dan mekanisme seleksi sehingga bisa beradaptasi di lingkungan.

Tapi perbedaan evolusi sosial dan biologis ada pada sistem informasi. Pertama, dalam evolusi biologis, gen menjaga informasi yang diturunkan. Spesies yang berbeda tidak bisa kawin-mawin sehingga informasi yang penting untuk evolusi tidak meluas ke spesies lainnya. Sedangkan di kehidupan manusia, informasi kebudayaan ditransmisikan dengan cepat dan luas, dari satu masyarakat ke masyarakat jenis lainnya. Jadi, evolusi biologis menghasilkan diversifikasi, sedangkan evolusi sosial memiliki sedikit variasi.

Perbedaan lainnya, evolusi biologis tidak akan meniadakan organisme yang lebih sederhana. Sedangkan dalam evolusi sosial, masyarakat yang lebih sederhana lebih mudah dikalahkan oleh masyarakat yang lebih kompleks.

10. Seleksi

Seleksi adalah proses di mana lingkungan dan faktor genetik memengaruhi organisme mana yang bisa bertahan hidup lebih baik. Proses evolusi di masyarakat manusia terjadi dalam tiga cara, yakni seleksi biologis, seleksi sosial, dan seleksi kultural. Ada tiga jenis perilaku dalam proses seleksi.

Pertama, evoked behavior, di mana individu merespon secara langsung dan instingtif pada lingkunganya. Kedua, acquired behavior, di mana individu mengimitasi atau telah mempelajari perilaku dari individu lainnya. Ketiga, imposed behavior, yang mana individu melakukan peran sosial berdasarkan ketentuan lembaga sosial dan norma sosial.

11. Kooperasi

Ilmuwan evolusioner seringkali mengartikan kooperasi serupa dengan altruisme. Kooperasi adalah situasi di mana seorang individu memberikan sesuatu kepada individu lain. Artinya, individu penerima mendapatkan keuntungan sedangkan individu pemberi menerima ongkos.

Namun, ilmuwan evolusioner yang lain juga mengikutsertakan masalah koordinasi ke dalam konsep kooperasi sehingga ia dapat didefinisikan secara sederhana sebagai “kerja sama”. Dengan definisi seperti ini, perspektif evolusioner bisa berkomunikasi dengan perspektif nonevolusioner.

Kooperasi bentuknya cenderung berupa altruisme resiprokal, yagnik bentuk altruisme di mana kedua belah pihak saling memenuhi kepentingan masing-masing. Secara sederhana, altruisme resiprokal dikenal sebagai “saling membantu”.

Bacaan lebih lanjut

  1. IntroductIon to Sociology (2018) oleh Anthony Giddens, Mitchell Duneier, Richard P. Appelbaum, dan Deborah Carr.
  2. The New Evolutionary Sociology: Recent and Revitalized Theoretical and Methodological Approaches (2018) oleh Jonathan H. Turner dan Richard S. Machalek.
  3. Research Handbook on Analytical Sociology (2021) oleh Gianluca Manzo (editor).

Tentang Penulis

Website | + postingan

Berdiri sejak tahun 2020, Sosial Logi adalah media populer yang membumikan ilmu sosial di Indonesia.

Leave a Reply