Sejak awal sampai hari ini, sosiologi tetap bertransformasi. Ruang lingkup yang lebih lawas seperti sosiologi politik juga mengalami hal serupa. Dalam penafsiran sederhana, sosiologi politik dipahami sebagai kajian sosiologi atas dunia politik yang menggambarkan relasi antara masyarakat dan kekuasaan.

Kelawasan sosiologi politik sebenarnya dapat dilacak melalui karya para pemikir seperti Alexis de Tocqueville, Emile Durkheim, Karl Marx, Max Weber. Namun, gema sosiologi politik barulah mencapai bisingnya beberapa tahun pasca berakhir perang dunia kedua dan naiknya gerakan sosial menentang perang vietnam.

Asumsi Dasar Sosiologi Politik

Sosiologi politik tidak terlalu berfokus pada penjabaran sistem politik dan seabrek masalah filosofis. Melainkan terarah pada basis sosial yang menyelimuti setiap perkara dalam dunia politik dengan analisis di tingkat mikro maupun makro. Beberapa studi sosiologi politik kadang menonjolkan lokalitasnya.

Negara-negara di afrika sering mengikut sertakan tema pascakolonial dan pan-afrikanisme kedalam kajian mereka, sedangkan di India kajian seputar struktur sosial dan kasta turut meramaikan diskursus sosiologi politik di sana.  

Objek Kajian Sosiologi Politik

Kekuasaan

Kekuasaan dapat dipahami sebagai bentuk dominasi pihak tertentu dalam arena sosial baik dalam skala keluarga sampai negara. Akan tetapi, sosiologi politik berupaya membedah kekuasaan dalam wilayah lebih makro seperti masyarakat terlepas dari teritori tertentu. Kekuasaan juga tidak melulu tentang negara, bentuk dari kekuasaan seringkali terasa halus.

Betty Dobratz, Lisa Waldner, dan Timothy Buzzell menawarkan kesimpulan menarik mengenai apa yang mesti dikaji, menurut mereka konsentrasi kekuasaan di negara demokrasi dan bagaimana kekuasaan beroperasi adalah dua tema yang perlu dikaji dalam ruang lingkup sosiologi politik. Pemikir seperti Michel Foucault dan C.Wright Mills berjasa dalam mengembangkan kajian seputar kekuasaan.

Negara

Salah satu bentuk kekuasaan adalah negara. Dalam sosiologi politik posisi negara sebagai objek kajian akan mengarah pada isu seputar bagaimana peran sosial kemasyarakatan membentuk dan menciptakan negara, konsepsi negara-bangsa dan pembentukan identitas di masyarakat, kondisi masyarakat dalam bentuk pemerintahan tertentu atau ketika sedang dalam masa transisi, mengkaji tentang peranan negara dalam berbagai dimensi kehidupan.

Dalam telaah yang lebih kontemporer, fenomena seperti bergantinya negara dengan kekuatan supranasional yang tidak mengenal batas teritorial telah menjadi isu yang menarik beberapa pakar di luar sana.

Birokrasi

Birokrasi telah menjadi perhatian sejak lama dalam sosiologi. Sebagai bentuk kelompok yang lebih formal, tertata dan memiliki tujuan jelas. Birokrasi tidak lepas dari peranan interaksi sosial dalam setiap proses yang dijalani, baik itu saat dibentuk, bekerja, maupun dampaknya pada masyarakat umum.

Dalam format sosiologi politik, isu seputar rasionalisasi birokrasi dan dampak kebijakan bagi masyarakat menjadi tema penting, yang terbaru dalam kajian ini yakni mengendurnya kekakuan dalam birokrasi dan digantikan melalui fleksibilitas, selain itu pengambilan keputusan kebijakan secara partisipatif mengubah arah birokrasi yang selama ini cenderung satu arah.

Gerakan Sosial

Menurut J. Craig Jenkins dan William form, gerakan sosial dapat dipahami sebagai upaya terorganisir untuk membawa perubahan sosial dalam perkara distribusi kekuasaan. Gerakan sosial melibatkan banyak unsur di dalamnya, mulai dari gerakan itu sendiri, keterlibatan pemerintah, organisasi kepentingan politik seperti partai politik,  dan lembaga sosial lainnya seperti agama dan pendidikan.

Sejak pertengahan 1960-an, studi mengenai gerakan sosial jamaknya terbagi dua antara OSM (Old Social Movement) dan NSM (New Social Movement). Perbedaan mendasar dari jenis gerakan tersebut terletak dari kepentingan dan konsentrasi, OSM lekat dengan kepentingan ekonomi dan kelas pekerja yang terkonsentrasi dalam masyarakat industri. Sedangkan NSM terjadi pada masyarakat pasca industri lebih menekankan pada persoalan kontemporer seperti isu identitas, perdamaian, lingkungan dengan menghadirkan elemen penggerak lebih majemuk seperti pelajar dan kelas menengah baru.

Partisipasi Politik

Pemilihan umum dan memilih dalam dunia politik sering diasumsikan sebagai bentuk paling sederhana dari partisipasi politik. Dalam kerangka lebih sosiologis pemilu dilihat melalui serangkaian basis sosial meliputi pembentukan dan dampaknya pada umum. Selain melalui pemilu, partisipasi juga dapat berupa perkara rekrutmen politik dan keikutsertaan masyarakat dalam menetapkan regulasi secara langsung.

Beragam topik seperti isu ketidaksetaraan sosial-ekonomi dalam pemilu, masalah kewarganegaraan, studi tentang perilaku pemilih menjadi menarik dalam kajian sosiologi politik. Keberadaan

Kemungkinan Arah Baru Sosiologi Politik

Arah baru sosiologi politik akan sangat bergantung pada perkembangan diluar dimensi sosial yang kita yakini, hal ini ditandai dengan kehadiran jaringan internet yang mendukung keberadaan media sosial. Sudah banyak riset dan studi seputar sosiologi politik mengalami perkembangan signifikan diakibatkan kehadiran media sosial dan internet pada umumnya. 

Kemungkinannya akan masif ketika perkembangan kecerdasan buatan sudah solid. Isu seputar gerakan sosial maya, keamanan siber, datakrasi, dan kontrol kuasa dalam ranah digital telah menjadi beberapa contoh topik yang hadir dalam beberapa tahun belakangan dan akan terus berkembang.   

Bacaan Lebih Lanjut

Essential Concepts In Sociology (edisi kedua) (2017) oleh Anthony Giddens dan Philip W. Sutton. 

Power, Politics, and Society: An Introduction to Political Sociology (2016) oleh Betty Dobrazt, Lisa K. Waldner, dan Timothy Buzzell. 

The Handbook of Political Sociology: State, Civil Societies and Globalization (2008) disunting oleh Thomas Janosky, Robert Arfold, Alexander Hicks, dan Mildred Schwartz. . 

Tentang Penulis

Website | + postingan

Berdiri sejak tahun 2020, Sosial Logi adalah media populer yang membumikan ilmu sosial di Indonesia.

Leave a Reply