Penyebab kemiskinan terus menjadi perbincangan baik di ilmu ekonomi maupun sosiologi. Konsep mengenai kemiskinan punya beragam definisi seiring perkembangan zaman dan kepekaan kita memandang kemiskinan itu seperti apa.

Pada perkembangannya analisis mengenai kemiskinan tidak sekadar berakar dari kurangnya pendapatan dan proses memenuhi kebutuhan hidup semata. Secara sosiologis, menurut Anthony Giddens dan Philip Sutton kemiskinan jamak dipahami dalam dua konsep, yakni kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif.

Kemiskinan absolut ditandai dengan ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan dasar yang mengacu pada standar universal. Orang dengan kekurangan seperti makanan, tempat tinggal, dan pakaian semisal dapat dikategorikan sebagai orang miskin. Penetapan standar ini biasanya diambil alih oleh pemerintah (di Indonesia ada BPS) atau organisasi tingkat dunia (World Bank, IMF, dsb).

Namun, kemiskinan absolut banyak mengalami pertentangan. Utamanya disebabkan penyingkirkan aspek sosial-budaya yang berlaku di masing-masing wilayah. Seolah-olah memukul rata semua orang dengan kategorisasi miskin atau tidak miskin. Kemiskinan relatif kemudian menjadi opsi.

Kemiskinan relatif sendiri dapat dipahami sebagai kemiskinan yang mengacu pada konteks sosial-budaya yang berkembang di masyarakat tertentu. Semisal, kebutuhan air bersih dan sanitasi yang layak dianggap sebagai sesuatu yang lumrah di negara-negara maju, akan tetapi di beberapa kawasan tertentu hal tersebut menjadi barang mewah dan hanya bisa diakses oleh kalangan tertentu.

Untuk memahami lebih jauh penyebab kemiskinan bisa terjadi di masyarakat. Ilmu sosial menyediakan beberapa perangkat analisis yang bisa digunakan.

Pendekatan Faktor Penyebab Kemiskinan

Behaviorisme

Perilaku dependen pada orang lain adalah salah satu contoh fenomena dalam perspektif behavioral atas penyebab kemiskinan.
Pendekatan behavioral sangat memperhatikan perilaku manusia sebagai faktor penyebab kemiskinan di masyarakat.

Perilaku menjadi biang keladi mengapa kemiskinan terjadi. Menurut penjelasan ini, orang terjerat dalam kemiskinan karena mereka terlibat dalam perilaku atau risiko yang kontraproduktif dan meningkatkan kemiskinan seperti kehadiran pengangguran. Dengan bahasa sederhana, mereka menjadi miskin karena “malas”.  

Lantas, bagaimana perilaku itu bisa hadir? Para ahli memetakan sebab itu kedalam dua aspek, yakni pengaruh insentif dan budaya. Dengan insentif, para ahli menekankan bahwa tanggapan rasional individu bisa saja mengarah kepada perilaku yang bermasalah dan tentu menghasilkan kemiskinan.

Sedangkan pengaruh budaya dapat terlihat sebagai pembentuk pola kebiasaan yang seringkali menuntun individu terjebak dalam kemiskinan. Pada beberapa kesempatan, terdapat hubungan umpan balik dari kemiskinan yang mempengaruhi insentif dan budaya lalu membentuk individu.

Pandangan ini banyak menuai kritik, utamanya karena keengganan teori ini mengakui keberadaan struktur yang lebih berpengaruh terhadap kemiskinan.

Struktural

Pandangan struktural umumnya tidak terlepas dari peran aspek ekonomi. Keberadaan aspek ekonomi biasanya lekat dengan pertumbuhan ekonomi, pembangunan, industrialisasi, deindustrialisasi, Pasar tenaga kerja, skills mismatches, serta persoalan spasial.

Selain pengaruh aspek ekonomi, pandangan struktural juga dipengaruhi oleh konteks demografi yang melingkupi komposisi gender dan usia, pemisahan tempat tinggal, transisi demografi, urbanisasi, sampai lingkungan yang tidak menguntungkan (neighborhood disadvantage).

Dalam memahami teori struktural ini lebih jauh, kita bisa memilah jalurnya ke dalam beberapa tesis utama:  

  1. Struktur sebagai pembentuk perilaku individu tertentu. Dan perilaku itu menjadi penyebab kemiskinan.
  2. Struktur bertanggung jawab menghadirkan kemiskinan secara langsung tanpa perantara perilaku atau aktor tertentu.
  3. Konteks struktural berinteraksi dengan aktor/individu untuk memoderasi hubungan perilaku-kemiskinan.

Inilah yang membuat behaviorisme berbeda dengan strukturalis, sebab struktur dimungkinkan mencipta kemiskinan secara langsung tanpa keterlibatan aktif perilaku individu tertentu. 

Beberapa pemikir terkemuka banyak menggunakan teori ini sebagai pendekatan memahami penyebab kemiskinan. Karl Marx mungkin paling terkenal dalam meradikalkan pandangan semacam ini. Memandang industrialisasi bercorak kapitalisme sebagai alasan suatu kelompok bisa dikategorikan mengalami kemiskinan.

Teori Politik

Dalam teori politik, kemiskinan dikondisikan sebagai hasil dari kebijakan (proses politik) yang didorong oleh hubungan kekuasaan dan institusi. Bentuk paling luas antara kekuasaan dan institusi tercermin melalui negara beserta ideologi yang mendominasi.

Penelitian Stephanie Moller beserta kolega mungkin bisa dijadikan rujukan. Pada beberapa negara demokrasi yang tidak didominasi partai kiri, serikat pekerjanya tidak terlalu aktif dan jumlah perempuan di parlemen cenderung sedikit umumnya akan memiliki tingkat kemiskinan lebih tinggi dibanding negara-negara yang sebaliknya.

Hal tersebut merupakan konsekuensi dari orientasi kebijakan yang diambil berdasarkan preferensi yang berkuasa. Amerika Latin yang dikuasai ideologi kiri kerap dijadikan contoh betapa suksesnya kebijakan berbasis kesejahteraan sosial, meski diluar sana varian negara berbasis sosial demokrat yang didominasi negara kawasan Skandinavia lebih kompatibel mengatasi masalah kemiskinan.

Kesimpulan: Gabungkan faktor yang menyebabkan kemiskinan

Meski ada banyak jalan dalam memahami muasal terjadinya kemiskinan, David Brady justru mengusulkan untuk mengintegrasikan teori-teori penyebab kemiskinan yang ada guna mendapatkan penjelasan lebih memadai perihal mengapa kemiskinan dapat terjadi di suatu masyarakat. Kita tidak memungkiri, beberapa teori yang hadir memiliki kelemahan dan kelebihan. Integrasi ini kemudian diikuti dengan keterhubungan studi kawasan antara negara kaya dan berkembang demi mendapatkan analisis ilmiah yang lebih komprehensif.

Bacaan Lanjutan

Determinants of relative poverty in advanced capitalist democracies oleh Moller S, Bradley D, Huber E, Nielsen F, Stephens JD

Essential Concepts In Sociology (edisi kedua) oleh Anthony Giddens dan Philip W. Sutton. 

Theories of the Causes of Poverty oleh David Brady 

Tentang Penulis

Website | + postingan

Berdiri sejak tahun 2020, Sosial Logi adalah media populer yang membumikan ilmu sosial di Indonesia.

Leave a Reply