Sebagai salah satu ruang lingkup sosiologi, sosiologi hukum tidak banyak dibahas di Indonesia. Tidak banyak pula dituliskan secara rinci sejarah sosiologi hukum dan perkembangannya.

Sosiologi hukum pada dasarnya berusaha melampaui apa yang studi hukum umumnya lakukan dengan cara membawa masyarakat, berikut dengan norma dan nilai sosialnya, ke dalam analisis hukum. Jadi, sosiologi hukum membuka peluang baru untuk menteorisasikan isu-isu kritis di ilmu hukum.

Namun, tidak banyak yang diketahui oleh mahasiswa atas sosiologi hukum.. Dalam postingan ini, pembaca dapat berkenalan dengan sejarah sosiologi hukum yang diawali dari Eropa hingga Amerika Serikat. Pada akhir tulisan pembaca bisa menarik titik yang menjanjikan dari sosiologi hukum berdasarkan sejarahnya.

Sejarah Sosiologi Hukum Berawal di Eropa

Dari kacamata sejarah yang dalam, Montesquieu biasanya disebut-sebut sebagai orang pertama yang mendiskusikan hukum secara sosiologis. Dia menjelaskan dan membandingkan beragam hukum-hukum dari beragam masyarakat. Dalam analisisnya itu, dia menggambarkan bagaimana hukum bergantung pada lokasi geografis, budaya dan kondisi sosial dari masyarakat tersebut.

Max Weber punya peran di sejarah sosiologi hukum dunia.
Max Weber punya jasa juga di sosiologi hukum, yakni klasifikasinya atas otoritas/kekuasaan

Jika kita melihat dari kacamata sejarah masyarakat modern, sejarah sosiologi hukum diawali oleh Karl Renner dan Max Weber. Karl Renner adalah politisi asal Jerman yang pernah menjadi presiden di sana sebanyak dua kali. Sebagai akademisi, Renner punya perhatian khusus pada hubungan antara hukum privat dan kekayaan privat.

Berkat bukunya, Ein Beitrag zur Kritik des bürgerlichen Rechts [Lembaga-lembaga Hukum Privat dan Fungsi Sosial Mereka] (1904) Renner dikenal sebagai salah satu pendiri dari disiplin sosiologi hukum. Di dalam buku itu, Renner berargumen pemisahan antara hukum publik dan hukum privat adalah ciptaan kapitalisme.

Salah satu pendiri sosiologi, Max weber, juga pernah menyampaikan analisisnya atas hukum. Dalam karyanya, The Types of Legitimate Domination, dia membagi tipe ideal dari kekuasaan ke dalam beberapa jenis. Salah satunya adalah legal-rasional. Dalam kekuasaan ini, ketundukan terjadi karena aturan-aturan dan orang-orang yang menduduki kursi kekuasaan.

Emile Durkheim menyebutkan adanya dua jenis hukum di masyarakat: represif dan restitutif. Hukum represif adalah hukum yang memberikan sanksi dan biasanya mudah ditemukan di masyarakat dengan solidaritas mekanis. Sedangkan di masyarakat dengan solidaritas organis, hukum yang berlaku umumnya adalah hukum restitutif.

Perkembangan Sosiologi Hukum di Amerika Serikat

Sosiolog Amerika mulai mengembangkan teori-teori sosiolegal sepanjang tahun 1950an. Sayangnya, kebanyakan sosiolog menghindari topik hukum sebagai fenomena sosial. Pada akhir 1950an, sosiologi hukum mulai dibicarakan keunikan dan kebermanfaatannya, serta mulai dikembangkan.

Pada awal 1960an, sosiolog hukum William M. Evan menerbitkan buku, Law and Sociology: Exploratory Essays (1962). Ditulis oleh delapan akademisi, buku itu menjadi wadah bagi sosiolog dan pengacara untuk mendiskusikan pandangan-pandangan atas hukum dan masyarakat. Pada tahun yang sama, Davis dan koleganya menerbitkan buku Society and the Law: New Meanings for an Old Profession (1962). Law and Society Association didirikan pada tahun 1964, begitu juga dengan jurnal mereka, Law and Society Review

Beberapa publikasi pada tahun 1968 menyebabkan sosiologi hukum makin dilihat oleh orang-orang. Beberapa publikasi itu adalah:

  1. Philip Selznick di International Encyclopedia of the Social Sciences, “The Sociology of Law”.
  2. Norms and Action: National Reports on Sociology of Law, diedit oleh Renato Treves dan J. F. Glastra Van Loon.
  3. Law and Society: A Sociological View oleh Edwin M. Schur.

Pada tahun 1970an, sosiolog hukum Donald Black berargumen sosiologi hukum yang “murni” harus disertakan dalam menganalisis kehidupan hukum secara ilmiah. Tujuannya, untuk membentuk teori hukum umum yang bisa memprediksi dan menjelaskan setiap perilaku hukum. Jadi, bagi Donald Black sosiologi hukum menjadi studi yang konseptual, objektif, dan ilmiah, bebas dari nilai, moralitas dan politik.

Black mengkritik sosiolog hukum yang berkeinginan untuk memengaruhi kebijakan publik. Dalam pandangannya sosiolog ini mencampuradukkan usaha studi ilmiah dengan reform tatanan hukum dan ideologi.

Philippe Nonet menolak pemikiran Black pada tahun 1976. Dia mendorong sosiologi hukum ke arah yang lebih normatif, dekat dengan moral. 

Sebuah gerakan baru, studi hukum kritis, muncul pada tahun 1980an. Tujuan dari studi hukum kritis adalah untuk mengkritik ajaran hukum liberal. Menurut mereka, doktrin liberal berisi dengan kontradiksi dan inkonsistensi.

The Behavior of Law karya Donald Black, penting untuk diketahui ketika belajar sejarah sosiologi hukum.
Bukunya Donald Black, Perilaku Hukum, telah diterjemahkan di Indonesia sehingga bisa dibaca oleh mahasiswa dan peneliti secara umum.

Rita J. Simon dan James R. Lynch mengamati perkembangan sosiologi hukum. Melalui artikel mereka, “The Sociology of Law: Where We Have Been and Where We Might be Going” (1989), disampaikan ada dua hal tentang sosiologi hukum. Pertama adalah mereka yang berfokus pada grand theory. Sosiolog ini berusaha menjelaskan fenomena sosiolegal dalam skala yang luas. Menurut mereka, belum ada teori umum sosiolegal yang pernah dipublikasikan setelah Donald Black, The Behavior of Law (1976). Hasil kedua dari observasi mereka adalah sosiologi hukum gagal melakukan studi komparatif. 

Sejak awal abad ke-21, sosiologi hukum memiliki beberapa kecenderungan diskusi dan kajian. Beberapa di antaranya adalah upaya membentuk grand theory, analisis sosial yang berfokus pada level mikro, studi empirik dan komparatif di mana sistem hukum di luar negara Barat juga diikutsertakan, dan penggunaan pendekatan teoritik di sosiologi umum seperti autopoiesis, dekonstruksi, Feminisme, dan NeoMarxisme.

Sejarah Sosiologi Hukum dan Masa Depannya

Melihat kembali ke sejarah, sosiologi hukum pernah berada di masa yang diskriminatif; hukum tidak dipahami sebagai bagian dari fenomena sosial sehingga tidak layak untuk dipelajari secara sosiologis. Namun, seiring berjalannya waktu, dengan upaya-upaya diskusi dan kepenulisan, orang-orang mulai melihat pentingnya mendirikan sosiologi hukum.

Dari penjabaran sejarah sosiologi hukum in, kita dapat melihat sosiologi hukum adalah ruang lingkup kajian sosiologi yang sangat menjanjikan. Tidak hanya bisa berteori atas cara kerja hukum di masyarakat manusia, peneliti-peneliti sosiologi juga mulai meningkatkan akurasi teorinya dengan studi komparatif pada negara-negara non-Barat. 

Mungkin saja di beberapa dekade ke depan mahasiswa akan memiliki seperangkat teori dan konsep untuk menjelaskan dan memprediksi pengaruh timbal balik antara hukum, individu, kelompok, organisasi, dan masyarakat global.

Bacaan lebih lanjut

The Sociology of Law: Classical and Contemporary Perspectives (2008) oleh A. Javier Trevino

Tentang Penulis

Website | + postingan

Berdiri sejak tahun 2020, Sosial Logi adalah media populer yang membumikan ilmu sosial di Indonesia.

Leave a Reply