Sosiologi tidak hanya mempelajari manusia dalam jumlahnya, tapi juga dari awal lahir hingga matinya. Karena itu, sosiologi keluarga menjadi salah satu ruang lingkup kajian sosiologi.

Keluarga adalah lembaga sosial yang penting dalam mensosialisasikan anggota masyarakat yang baru (yakni anak) dan ini menunjukkan sentralitas keluarga di masyarakat. Istilah keluarga di Indonesia sangat dekat artinya dengan ikatan darah. Namun dalam pemeriksaan yang lebih jauh, kita juga mengenal istilah “saudara sebangsa dan setanah air”, atau “saudara jauh”.

Ini mendemonstrasikan keluarga sebagai konstruksi sosial. Keluarga adalah produk sosial yang tak terbatas pada hubungan biologis dan genetik saja. Seseorang bisa membentuk sebuah keluarga dari kumpulan individu yang sama sekali tak terikat darah. Sosiologi keluarga menyikapi keluarga dengan cara ini juga.

Sepanjang waktu masyarakat makin dipenuhi oleh perbedaan daripada kesamaan. Tidak hanya kelas, masyarakat pun bisa dibagi lebih kecil ke dalam kategori sosial seperti etnisitas, budaya, dan gender. Ini menunjukkan studi sosiologi keluarga makin tua makin rumit dan menarik.

Dalam postingan kali ini, pembaca diperkenalkan dengan salah satu ruang lingkup sosiologi, yakni sosiologi keluarga. Postingan ini diawali dengan pengertian serta ruang lingkup sosiologi keluarga. Kemudian pembaca disajikan topik-topik sosiologi keluarga kontemporer yang menarik perhatian para peneliti. Postingan ini diakhiri dengan arah yang menjanjikan dari sosiologi keluarga.

Sekilas Memahami Sosiologi Keluarga

Asumsi dasar dari sosiologi keluarga adalah universalitas keluarga, bahwa keluarga ada di masyarakat manapun dan memiliki fungsi yang penting di masyarakat tersebut. Secara umum, sosiologi keluarga fokus memahami bagaimana keluarga terbentuk, terjaga, bertumbuh, dan bercerai. Jadi, pernikahan, kelahiran anak, pendidikan anak, dan perceraian adalah topik yang pada umumnya dipelajari oleh sosiolog di kajian ini.

Topik Sosiologi Keluarga Kontemporer

Bentuk Baru dari Keluarga

Kini, sosiologi keluarga mengakui adanya bentuk keluarga homoseksual
Adanya pasangan homoseksual dan anak mereka menggoncangkan definisi keluarga tradisional yang biasanya dianut sosiologi keluarga

Apa itu keluarga? Ini adalah pertanyaan dasar yang diajukan oleh para sosiolog yang mendalami keluarga. Bagaimana caranya membedakan rumah tangga dari keluarga? Sudah jelas, tempat di mana suami-istri dan anak-anaknya tinggal berbeda dari konsep keluarga.

Namun bisakah keluarga didefinisikan terlepas dari tempat di mana ia tinggal? Atau sebaliknya, haruskah keluarga didefinisikan sebatas hubungan biologis dan hukum? Dalam masyarakat modern, keluarga yang didefinisikan sebagai hubungan yang berketurunan biologis sedang mengalami penurunan jumlah. Meski telah muncul teknologi reproduksi, kehadiran anak nampaknya tidak lagi mendefinisikan keluarga modern.

Pernikahan dan Kohabitasi

Sosiologi keluarga mengakui bentuk keluarga yang tidak terikat pernikahan
Tren: pasangan yang memiliki anak tidak lagi harus terikat dengan pernikahan

Seperti yang disebutkan sebelumnya, jumlah keluarga tradisional kini mengalami penurunan. Itu terjadi bukan hanya karena orang-orang tak memiliki anak, tapi juga karena mereka tidak menikah. Keluarga yang tidak menikah ini biasanya disebut keluarga kohabitasi dan lazim ditemukan di dunia sebelah Barat. Tentu kita bisa melihat kemunculan tren ini di Indonesia juga.

Pernikahan tidak lagi menjadi keharusan, dan bagaimana pun kehadiran anak tidak lagi didahului oleh hubungan seksual oleh orang tuanya. Kini, adopsi menjadi salah satu pilihan khususnya untuk keluarga yang terdiri dari orang tua dengan jenis kelamin yang sama.

Teknologi Reproduksi dan Keluarga Bukan Heteroseksual

Alat bantu reproduksi kini telah mendapatkan perhatian sosiologi keluarga
ARTs ada di sekitar kita dan makin canggih sehingga bisa melampaui apa yang sebelumnya kita tak bisa lampaui

Anak tidak hanya ada di keluarga heteroseksual. Saat ini, keluarga homoseksual juga bisa memiliki anak berkat adanya assisted reproductive technologies (ARTs). Beberapa teknologi canggih masa kini telah memungkinkan adanya ‘bayi tabung.’

ARTs tidak hanya membuka kesempatan semua orang untuk memiliki anak biologis, tapi juga mengubah bentuk hubungan antara si anak dan si orang tua. Berkat teknologi tes DNA misalnya, seorang anak bisa mengetahui lebih jauh garis keturunannya sehingga orang tua laki-laki tidak dapat begitu saja membuang tanggung jawabnya sebagai orang tua.

Dunia Kerja dan Stabilitas Keluarga

Instabilitas keluarga juga bagian dari topik studi sosiologi kontemporer
Keluarga modern tidak begitu stabil.

Bangkitnya perempuan dari hubungan asimetris di depan laki-laki menyebabkan peningkatan peran perempuan di luar keluarga. Kini, jumlah perempuan karir bertambah, sedangkan waktu yang mereka luangkan untuk rumah tangga tak sebanyak masa sebelumnya. Dengan kata lain, ada perubahan signifikan di kehidupan keluarga modern.

Ketidakstabilan keluarga juga naik karena meningkatnya keluarga single parent dan pernikahan dua kali atau lebih. Lebih jauh, ibu yang mengejar karirnya pun memiliki ketegangannya sendiri ketika menghadapi realita dunia kerja dan dunia keluarga.

Pembagian Kerja dan Ketidaksetaraan

Kesetaraan gender kini turut memengaruhi keluarga sehingga sosiologi keluarga tidak akan mengabaikannya.
Perempuan karir, begitu biasanya mereka disebut, juga menarik perhatian sosiolog belakangan ini.

Selain berpengaruh pada stabilitas keluarga, partisipasi perempuan di dunia kerja juga mencerminkan adanya masalah. Sekalipun terdapat perubahan besar pada kehidupan sang istri, peran suami umumnya tidak mengalami perubahan. Jadi perempuan punya “shift kedua” berikutnya sepulangnya dari tempat kerja, yakni pekerjaan domestik. 

Ini menunjukkan bahwa transformasi hubungan gender belum selesai. Perempuan memang dimungkinkan untuk bekerja, namun masih dibebankan dengan jenis pekerjaan lain di rumahnya.

Hubungan Intergenerasional

Sosiologi keluarga kini juga mempelajari hubungan anak dewasa dengan orang tuanya
Anak dewasa kini memiliki hubungan yang penting dengan orang tuanya, sebagaimana keluarga tidak lagi stabil.

Masih berhubungan dengan pernikahan dan ketidakstabilan, relasi antara anak yang sudah dewasa dengan orang tuanya menjadi makin penting pada masa modern ini, khususnya di Amerika Serikat. Relasi jenis ini sifatnya afektif dan instrumental, dapat hadir secara episodik, fleksibel, dan bertahan lama.

Pentingnya relasi intergenerasi merefleksikan dorongan ekonomi dan kebudayaan kontemporer di masyarakat. Sosiolog memperhatikan hubungan ini karena ia berkontribusi atas reproduksi ketidaksetaraan di masyarakat.

Kesimpulan: Faktor Seksualitas, Gender dan Teknologi di Keluarga Mengubah Arah Sosiologi Keluarga

Beberapa waktu sebelumnya, sosiologi keluarga mengasumsikan bahwa keluarga pada dasarnya terdiri dari dua orang yang memiliki hubungan romantik yang heteroseksual, dan dilengkapi dengan hadirnya satu atau lebih keturunan biologis.

Namun seiring berkembangnya pemahaman-pemahaman baru seperti feminisme, kesetaraan gender, seksualitas, dan teknologi modern konseptualisasi keluarga semacam itu terbukti tak efektif untuk mempelajari dinamika keluarga modern. 

Sebelumnya juga sosiologi keluarga memandang sentralitas keluarga di masyarakat. Sosiolog beranggapan pentingnya keluarga untuk membangun kesamaan nilai dan visi atas masyarakat. Namun kini keluarga tradisional tidak lagi hadir sentral di masyarakat.

Sosiologi keluarga pada akhirnya melakukan rekonseptualisasi pada apa yang dimaksud sebagai keluarga dan bagaimana fungsinya di masyarakat. Beberapa tren riset baru terbuka dan didiskusikan lebih lanjut. Ini menunjukkan sosiologi keluarga tidak dapat lepas dari perkembangan masyarakat kontemporer.

Bacaan Lebih Lanjut

Family change and the state of family sociology (2012) oleh Betty Farrell, Alicia VandeVusse, and Abigail Ocobock.

Intergenerational Family Relations in Adulthood: Patterns, Variations, and Implications in the Contemporary United States (2009) oleh Teresa Toguchi Swartz/

Tentang Penulis

Website | + postingan

Berdiri sejak tahun 2020, Sosial Logi adalah media populer yang membumikan ilmu sosial di Indonesia.

Leave a Reply