Sekitar pertengahan abad ke-19, filsuf asal Perancis, Auguste Comte, mengajukan ide bahwa umat manusia dapat, bahkan perlu, mempelajari masyarakat manusia secara ilmiah, sehingga lahir sosiologi. Karl Marx setuju dengan ide tersebut. Maka, Karl Marx menjadi salah satu orang yang paling awal dalam mengembangkan metodologi ilmu sosial dan menjawab pertanyaan-pertanyaan penting di studi sosial.

Studi yang dilakukan Marx sebenarnya bukanlah studi sosiologi. Dia tidak merujuk disiplin sosiologi secara spesifik, apalagi menyebut karyanya sebagai karya sosiologi. Meski demikian, melalui studi itu disajikan olehnya penjelasan-penjelasan atas masyarakat dalam gaya bahasa yang akademik, khususnya gaya historis dan ekonomi. 

Dengan observasi dan analisis, Marx mengidentifikasi sebab-sebab dari ketidaksetaraan sosial di masyarakat pada masanya.

Comte melihat ilmu sosial sebagai sebuah cara untuk meraih perubahan sosial. Berbeda dari Comte, Marx percaya bahwa tindakan-tindakan politis tidak hanya perlu tapi juga tak dapat dihindari. Konflik dan pemberontakan, baginya, adalah keniscayaan.

Biografi Singkat Karl Marx

Di masa perkuliahannya, Marx fokus mempelajari hukum dan filsafat di Bonn dan Berlin. Pada masa ini, dia mengenal pemikiran Hegel. Tesis doktoral yang dibuatnya membahas filsafat kuno, membandingkan filsafat yang diproduksi oleh Democritus dan Epicurus. Marx lulus pada tahun 1841 dari Universitas Jena.

Marx sudah menjadi seorang radikalis sejak awal tahun 1842. Dia mengawali karirnya sebagai seorang jurnalis radikal dan menjadi pekerja di koran bernama Rheinische Zeitung. Sosialisme awal kali dikenalkan oleh Moses Hess kepada Marx saat bekerja di sini. 

Dia bekerja di surat kabar itu sampai beberapa waktu sebelum pemerintah Prusia menutup tempat kerjanya pada April 1843.

Di masa ini, pemerintah memang sangat menekan aktor-aktor radikal. Kondisi semacam itu mendorong banyak pihak untuk menghindari sifat-sifat pemberontak. 

Ayahanda Marx tidak suka dengan posisi politiknya yang radikal itu. Marx pun sulit mendapatkan pekerjaan di dunia akademia karena radikalitasnya. Tidak ada harapan yang bagus untuk hidup di Jerman pada masa ini bagi seorang radikalis sepertinya. 

Karena itu, Oktober 1943, Karl Marx dan istrinya, Jenny von Westphalen, pergi ke Prancis.

Tinggal di Paris

Paris adalah tempatnya orang-orang radikal berkumpul pada masa itu. Di sini, Marx dapat menulis apapun yang dia mau dengan bebas dan tanpa rasa was-was. Di sinilah dia menjadi seorang komunis dan bertemu dengan kawan karibnya, Friedrich Engels.

Beberapa bulan terakhir di Jerman, Marx telah menulis sejumlah karya yang diteruskan proses penulisannya di Paris. Kebanyakan tulisan-tulisan itu tidak dimaksudkan untuk dipublikasi.

Salah satu karya tulisnya yang terpenting adalah “1844 Manuscripts” yang menjabarkan konsep alienasi. Di masa ini pula dia menulis kritisisme pada pemikirannya Bruno Bauer dan filsuf lainnya.

Saat di Paris, Marx bersama Arnold Ruge mendirikan sebuah jurnal politik bernama Deutsch-Französische Jahrbücher. Sayangnya, jurnal ini hanya menerbitkan satu isu karena adanya perbedaan pandangan filosofis di antara Ruge dan Marx.

Marx kemudian diusir dari Prancis oleh pemerintah pada sekitar tahun 1845.

Pindah ke Belgium

Marx tinggal di Brussel hingga tahun 1848. Di masa ini, Brussel sangat pesat perkembangan industrinya. Kondisi ini menyulitkan berbagai gerakan-gerakan politik. Dia pun diusir lagi dari Brussel karena sangat aktif secara politik.

The German Ideology juga ditulis di sini pada tahun 1845. Dalam karyanya yang monumental itu, Karl Marx mengembangkan teori materialisme historis. Sayangnya tidak ada penerbit buku yang mau menerbitkan karyanya.

Pada tahun 1847, Marx mempublikasikan The Poverty of Philosophy yang mana mengolok-olok teori sosial Pierre-Joseph Proudhon

The Communist Manifesto, karyanya yang paling terkenal, dipublikasi pada tahun 1848. Buku yang dipublikasikan oleh Marx dan Engels ini muncul tepat sebelum Revolusi Februari. Di dalam buku ini juga utopia sosialisme dari Hess diejek.

Pada tahun 1849, Marx diusir dari Belgium dan pindah ke London. Di masa pindahnya ini Marx menganalisis kegagalan Revolusi Februari dan menerbitkan hasil analisisnya ke dalam buku The Class Struggles in France

Semua aktivitas politik dan publikasinya menunjukkan bagaimana Marx terus berkembang secara pemikiran atas kritik dan radikalitasnya. 

Beristirahat di London

Setengah masa tuanya, Marx tinggal di London. Kota ini memang cocok dengan status politiknya karena London pada masa itu adalah surga bagi orang-orang yang diasingkan secara politik. Pada saat yang bersamaan, entah keberuntungan atau bagaimana, London juga menjadi salah satu tempat berkembangnya masyarakat ekonomi kapitalis yang begitu pesat.

Sepanjang akhir 1849 hingga 1883, hidup Marx diwarnai oleh perjuangan intelektual dan personal. Dia berusaha menyelesaikan kritiknya atas ekonomi politik. Namun, ide-ide teoritik yang dihasilkannya lebih luas daripada sekedar ekonomi politik.

Istrinya meninggal pada tahun 1881. Setelah itu, hidup Marx penuh dengan derita dan masalah kesehatan. Dia banyak berkelana untuk menyembuhkan dirinya. 

Pada Maret 1883, Marx meninggal.

Pemikiran dan Teori Karl Marx

Karl Marx tidak meninggalkan dunia ini dengan kekosongan. Ide teoritiknya terus mewarnai kehidupan dan perubahan sosial di masyarakat modern dan ilmu sosial. Tidak berlebihan untuk menyebut Marx sebagai salah satu filsuf paling berpengaruh di dunia.

Semasa hidupnya, teori-teori perkembangan masyarakat telah diciptakan oleh banyak teoritisi. Namun, sebagai filsuf, Marx tidak mau asal mengikuti pandangan teoritisi lainnya. Dia mengembangkan sendiri idenya atas bagaimana masyarakat berkembang secara sosial dan ekonomi.

Adalah Georg Hegel, filsuf yang paling memengaruhi pemikiran Marx melalui sudut pandang historis. Bagi Hegel, sejarah perlu dilihat secara dialektis: bahwa perubahan datang melalui sintesis dari kekuatan-kekuatan yang saling bertentangan sehingga ide-ide yang kontradiktif itu menemukan penyelesaian masalahnya.

Berbeda dari Hegel, Marx melihat dialektika sejarah tidak dari sisi pertentangan ide. Dia sepakat bahwa “sejarah baru” datang dari sebuah pertentangan. Namun bukan ide yang menjadi faktor utamanya melainkan kondisi material.

Sejak saat itulah Karl Marx mengabaikan ajaran-ajaran Hegel. Dia kini satu arah dengan Jean-Jacques Rousseau, seorang pemikir sosialis: pihak yang patut disalahkan dari adanya ketidaksetaraan di masyarakat adalah pihak swasta. Kedua pemikiran filsuf ini menyerang private property.

Ide-ide dari Marx masih terus dibicarakan dan dikembangkan hingga kini. Berikut rangkuman dari setiap ide yang perlu diketahui oleh para mahasiswa.

Materialisme Historis

Pemikiran Karl Marx yang pertama menyangkut materialisme dialektis

Materialisme historis adalah pendekatan ilmiah ala Marx dan Engels. Dia digunakan untuk membuat penjelasan (atau teori) atas bagaimana perubahan sosial terjadi. Tepatnya, materialisme historis memberikan kerangka berpikir pada perubahan historis.

Pendekatan ini tergolong baru, pada masanya. Berbeda dari Hegel, Karl Marx meyakini kondisi material menentukan pengorganisasian masyarakat. Sebagai contoh, perubahan pada cara produksi menyebabkan perubahan situasi sosial ekonomi.

Menurut pendekatan ini, perubahan dalam kekuatan produksi (bahan mentah, alat produksi dan pekerja) di masyarakat menyebabkan konflik sosial. Hasil dari konflik ini adalah organisasi sosial yang merefleksikan kekuatan produksi itu.

Materialisme historis dianggap mampu menjelaskan transisi dari masyarakat feodal ke masyarakat kapitalis sebagaimana pada masa itu kegiatan ekonominya berubah.

Di dalam masyarakat feodal, mereka yang berasal dari keluarga bangsawan mengontrol produksi agrikultural karena mereka adalah pemilik lahannya. Sedangkan orang-orang bekerja sebagai petani di lahan mereka.

Dengan munculnya mesin, kelas sosial ekonomi baru muncul: kelas borjuis. Mereka, para borjuis, memiliki cara baru untuk memproduksi barang-barang ekonomis. Sepanjang waktu, kelas borjuasi berkonflik dengan kelas bangsawan dan hasilnya adalah perubahan struktur sosial di masyarakat tersebut. Masyarakat kapitalis lahir kemudian.

Pada dasarnya materialisme historis meyakini bahwa keseluruhan sejarah masyarakat manusia adalah sejarah perjuangan kelas. Dalam kasus masyarakat feodalisme, kelasnya terdiri dari bangsawan dan petani. Sedangkan masyarakat industri, kelasnya terdiri dari borjuasi kapitalis dan buruh.

Tahap Perkembangan Masyarakat

Pemikiran Karl Marx yang kedua adalah tahapan perkembangan masyarakat

Masyarakat manusia telah mengalami perubahan sepanjang waktu. Menurut Karl Marx, perubahan ini ditentukan oleh kegiatan dan cara produksi ekonomi mereka, khususnya pembagian kerja. Perubahan sosial ini terbagi menjadi beberapa tahapan.

Catatan: teori perkembangan masyarakat adalah salah satu teori yang cukup kontroversi di kalangan Marxis atas apakah ini teori yang sengaja dibuat oleh Karl Marx atau tidak.

Tribal. Awalnya masyarakat manusia berbentuk tribal atau kesukuan. Masyarakat kesukuan tidak memiliki kelas sosial. Mereka diikat dengan hubungan kekerabatan yang khas. Pembagian kerjanya cukup sederhana: para laki-laki melakukan perburuan sedangkan para perempuan melakukan kerja-kerja domestik.

Komunisme primitif. Sejumlah suku bersatu dan melahirkan kuasa yang berlegitimasi berdasarkan kesepakatan atau penaklukan. Pada masa ini, konsep kepemilikan pribadi masih sangat awal. Konsep yang berkembang saat itu adalah konsep perbudakan. 

Pada masa ini, perbudakan mulai muncul karena kondisi meningkatnya populasi. Jumlah orang yang makin banyak melahirkan pertumbuhan jumlah permintaan dan hubungan sosial di luar masyarakat mereka. Dari situlah peperangan dan hubungan ekonomi dengan masyarakat luar muncul.

Kekuatan produksi pada masa ini pun masih pada tahap awal. Orang-orang primitif tidak melakukan kegiatan produksi sendirian. Mereka melakukannya dengan cara saling membantu. Jadi, alat dan cara produksi adalah urusan bersama dan mereka saling membantu untuk bertahan hidup.

Barang-barang yang hasilkan juga didistribusikan dengan merata. Tidak ada kelas, ataupun satu orang yang paling penting daripada semuanya. Konsep ketidaksetaraan muncul di sini dan inilah titik awal kemunculan konsep kelas.

Feodalisme. Tanah dimiliki oleh para bangsawan. Mereka mengeksploitasi tenaga para petani untuk menyediakan produk-produk ekonomi. Jadi ada dua kelas di sini: tuan tanah dan petani.

Di masa ini para petani bukanlah budak. Sebab, mereka meminjam lahan dari tuan tanah, dan mereka menjadi kekuatan produksi bagi dirinya sendiri. Namun, secara teknis mereka tidak sepenuhnya memiliki kebebasan; para petani pada masa feodalisme mirip dengan budak.

Para tuan tanah mengeksploitasi para petani. Sedangkan para petani berusaha membebaskan diri mereka dari hubungan eksploitatif ini. Pertentangan antara kelas bangsawan dan petani mewarnai masa ini.

Kapitalisme. Bangsawan dan petani digantikan oleh kapitalis dan pekerja sebagaimana teknologi dan kehidupan sosial makin berkembang. 

Para pedagang kaya dan pemilik perusahaan disebut sebagai kelas borjuis. Mereka memiliki kekuatan politik dan mengeksploitasi kelas pekerja. 

Kapitalisme muncul sebagai hasil dari revolusi industri di Eropa. Saat itu, bahan-bahan mentah diperjualbelikan untuk kegiatan produksi di berbagai perusahaan. Tenaga manusia termasuk komoditas.

Para pekerja menjual dirinya, dan kapitalis mendapatkan tenaganya untuk kegiatan produksi. Sedangkan pekerja, masih sama dengan petani di masa feodal, terpaksa bekerja untuk memenuhi hajat hidupnya.

Kata Karl Marx, ketika kelas pekerja sadar secara politis, kelas borjuasi akan ditendang dari kuasa kelas borjuasi. 

Sosialisme. Kelas pekerja akan membentuk organisasi-organisasi buruh untuk meratakan distribusi makanan, barang, dan jasa berdasarkan kebutuhan tiap orang. Profit pun dibagi secara merata. 

Kelas menengah pun akan sadar bahwa kesetaraan lebih penting daripada kepemilikan pribadi. Hubungan di antara tiap orang pun tidak eksploitatif.

Komunisme. Semua orang akan bekerja sama untuk kebaikan bersama. Tidak ada pemerintahan dan keuangan. Masyarakat akan lepas dari konsep keuangan. Di masyarakat semacam ini, investasi dan konsumsi ditentukan oleh perencanaan di tingkat nasional.

Sebagaimana semua masyarakat manusia mencapai tahap ini, tidak akan ada lagi yang namanya pemerintahan dan kompetisi antar negara. Pada tahap inilah perkembangan tertinggi masyarakat manusia bisa dicapai. 

Kapitalisme dan Konflik Kelas

Pemikiran Karl Marx yang ketiga adalah konflik kelas

Kapitalisme telah menerima kritik dari berbagai tokoh sepanjang sejarah. Sebagian dari kritikus itu menginginkan alternatif lain dari kapitalisme; mereka ingin mengganti kapitalisme dengan metode produksi lainnya. 

Karl Marx memandang memandang bahwa kapitalisme adalah bagian dari tahapan perkembangan masyarakat dan pada satu waktu akan tergantikan dengan sendirinya.

Kapitalisme adalah bentuk masyarakat manusia dengan alat, cara dan relasi produksi yang khusus. Cara produksi adalah konsep yang mencakup tenaga kerja, penggunaan tenaga kerja, hal-hal yang dibutuhkan untuk memproduksi sebuah barang. Misalnya, mesin, perusahaan, bahan mentah, dan fasilitas di dalam perusahaan. 

Alat produksi adalah semua elemen fisik di luar manusia yang dibutuhkan untuk memproduksi sebuah barang. Misalnya, mesin, palu, komputer, dan toko.

Relasi produksi adalah relasi yang muncul di antara kelas borjuis dan kelas pekerja. Menurut Karl Marx, sejarah masyarakat manusia berkembang melalui antagonisme, atau konflik kelas. Dalam konteks kapitalisme, konflik akan terjadi di antara kelas pekerja dan kelas borjuis.

Kontradiksi internal akan membuat kelas pekerja menantang kelas borjuis; akan ada konflik kelas. Kontradiksi ini dapat terjadi karena kepemilikan alat produksi menyebabkan kelas borjuasi bergantung pada kelas pekerja. Dan kelas pekerja tidak memiliki kebebasan untuk hidup sebagaimana mereka membutuhkan uang untuk hidup. 

Ketika kelas pekerja sadar relasi semacam ini, revolusi dapat terjadi. Kekuasaan borjuis runtuh dan sosialisme bangkit dari sana.

Para pekerja meruntuhkan konsep modal ekonomi. Sebab, kapitalisme memiskinkan para pekerja. Kondisi pemiskinan ini lambat laun akan menyadarkan pekerja dan memungkinkan terjadinya revolusi. 

Alienasi

Pemikiran Karl Marx yang keempat adalah alienasi

Kapitalisme dianggap merenggut kesempatan setiap pekerja untuk menciptakan hal-hal yang bermakna. Sebagai hasilnya, pekerja terasingkan (alienated) dari apa yang mereka ciptakan, dari proses kreativitasnya, dari diri mereka sendiri dan dari orang lain. Pekerja terpaksa melakukan kegiatan produksi demi mendapatkan uang. Kondisi semacam inilah yang Marx maksud sebagai kondisi alienasi.

Konsep alienasi memiliki perkembangan yang rumit di ilmu sosial. Psikolog dan sosiolog mendefinisikan alienasi sebagai negative mental state yang dialami oleh para pekerja karena mereka tidak terhubung dengan aktivitas kerjanya.

Namun konsep alienasi tidak punya definisi konseptual yang cukup jelas dan spesifik untuk digunakan dalam sebuah riset sosial empirik. Jadi, sebagian peneliti, misalnya dari ilmu politik, enggan menggunakan konsep alienasi dalam riset gerakan sosial.

Konsep alienasi dikembangkan secara terus-menerus di kalangan Marxis. Beberapa pengikut Marx menganggap konsep ini tidak punya batasan definisi yang jelas dengan konsep sosial dan Marxis lainnya. Ada pula yang menganggap konsep ini lepas dari nalar materialisme historis, sehingga ia menjadi konservatif terhadap kondisi penindasan pekerja.

Dengan kata lain, banyak kritik di lontarkan kepada konsep alienasi karena ia dapat digunakan untuk menjustifikasi ketidakberdayaan pekerja. Reinterpretasi terhadap konsep ini terus dilakukan untuk membuatnya lebih relevan dengan situasi riil di masyarakat.

Ideologi dan struktur sosial

Pemikiran Karl Marx yang kelima terkait idelogi dan struktur sosial

Karl Marx percaya bahwa perpindahan dari feodalisme ke kapitalisme punya implikasi pada struktur sosial. Mengikuti ide materialisme historis, perubahan pada tingkat struktur sosial terjadi karena adanya perubahan di tingkat cara dan relasi produksi. 

Dengan kata lain, apa yang kita produksi menentukan banyak hal di masyarakat. 

Dalam pemikiran seorang Karl Marx, struktur sosial disebut sebagai superstructure dan hal-hal material yang menentukannya disebut base structure. Superstructure mencakup kebudayaan, ideologi, norma sosial dan identitas yang ada di masyarakat. Sedangkan base structure mencakup semua kekuatan produksi.

Superstructure mencerminkan kekuasaan kelas borjuasi. Pada gilirannya, ia menjustifikasi bagaimana kegiatan ekonomi bekerja dan kekuasaan politik berlangsung; superstructure melegitimasi berbagai aspek di masyarakat. 

Hubungan dialektis ini berbeda dari pemikiran Hegel. Bagi Hegel, ideologi merupakan faktor terpenting yang menentukan bagaimana masyarakat bekerja dan diorganisasikan. Ideologi menentukan bagaimana setiap orang berpikir, bersikap dan bertindak atas dunia di sekitar mereka. Marx tidak puas dengan pandangan semacam ini.

Ideologi adalah sistem ide. Melalui ideologi orang-orang memahami bagaimana dunia ini “bekerja”. Ideologi berperan penting dalam mempertahankan kekuasaan kelas yang dominan.

Bagi Karl Marx, ide dan ideologi tidak berdiri sendiri. Mereka ada dan berkembang karena keberadaan hal-hal material. Misalnya, karena kepentingan ekonomi dan status sosial. Jadi, kesadaran dan persepsi atas dunia adalah hasil dari kondisi material di titik sejarah tertentu.

Ideologi perlu menjadi target bagi orang-orang yang ingin mengadakan perubahan di masyarakat kapitalistik. Dengan mengguncang ideologi, orang-orang yang dieksploitasi dapat menyadari ketidakadilan yang melekat pada diri mereka. Tanpa membongkar ideologi yang berkuasa, para pekerja akan terus berada dalam kondisi false consciousness.

Artikel ini merupakan teks pematerian “Karl Marx: Conflict and Ideology Biases” yang diadakan oleh Hima Sosiologi UNEJ dan Sosial Logi

Tentang Penulis

Website | + postingan

Berdiri sejak tahun 2020, Sosial Logi adalah media populer yang membumikan ilmu sosial di Indonesia.

Leave a Reply